Jakarta (ANTARA News) - Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menyatakan mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merupakan sosok pemimpin yang patut diteladani.

Terutama komitmennya untuk mendahulukan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingannya sendiri, serta keteguhannya untuk tidak melanggar konstitusi. "Gus Dur juga mengedepankan sikap yang tegas dalam memimpin negara," kata Mahfud dalam Seminar Kebangsaan "Aktualisasi Spirit Perjuangan Gus Dur" yang digelar dalam rangka hari ulang tahun ke-13 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta, Selasa.

Mahfud pun bercerita tentang situasi saat kursi kepresiden Gus Dur di ujung tanduk. Menurut Mahfud, Gus Dur sama sekali tidak khawatir dengan situasi itu dan tidak berupaya mencari selamat.

Ketika itu, kata Mahfud, datang sekelompok orang menemui dia dan menyatakan Gus Dur bisa diselamatkan asalkan bersedia mengeluarkan Dekrit Presiden agar menjadikan Indonesia sebagai negara Islam.

Ketika hal itu ia sampaikan kepada Gus Dur, dengan tegas Gus Dur menolak.

"Saya lebih baik berhenti sebagai presiden daripada mengorbankan bangsa dan negara," kata Mahfud menirukan pernyataan Gus Dur.

Gus Dur, kata Mahfud, juga teguh dalam memegang konstitusi, salah satunya ditunjukkannya dalam penyusunan maupun perombakan kabinet. Berpegang bahwa sesuai konstitusi menteri merupakan hak prerogatif presiden, Gus Dur menolak didikte partai lain.

"Demokrasi itu bukan jual beli. Menurut konstitusi, menteri adalah hak prerogatif presiden. Kalau mereka mau mendukung saya, tetaplah memberi hak prerogatif kepada presiden," kata Gus Dur seperti ditirukan Mahfud.

Mahfud juga mengemukakan sikap Gus Dur yang berani mengambil sikap dan tindakan yang diyakininya benar, tanpa peduli sikap dan tindakan itu akan merugikan citranya.

Menurut Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, dalam perjuangannya Gus Dur tidak pernah merekayasa media.

Tapi, lanjutnya, setiap pernyataan yang dikeluarkan Gus Dur selalu menjadi berita.

Sementara itu budayawan Radhar Panca Dahana menilai, di balik kelebihan yang dimilikinya, Gus Dur justru memiliki kelemahan yang mendasar yakni tidak mampu mengkomunikasikan gagasannya secara gamblang sehingga bisa bisa dipahami secara utuh oleh masyarakat.

"Kelemahan Gus Dur dalam komunikasi, tak banyak orang bisa memahami pikirannya. Celakanya, mengangkat juru bicara yang kemampuannya jauh di bawah dia, jadi justru menjadi masalah," katanya.

Dikatakannya, di banding masa lalu, saat ini sangat sedikit orang yang kaya gagasan, kebanyakan pragmatis. Gus Dur adalah bagian dari sedikit orang yang kaya gagasan itu.

"Sehingga `kecelakaan` bagi bangsa ini ketika ada Gus Dur yang kaya gagasan tapi tak bisa kita tangkap gagasannya," katanya.(*)
(T.S024/E001)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011