Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) sekaligus Anggota Tim Pelaksana Wantiknas Prof. Zainal A. Hasibuan mengatakan pentingnya link and match (menghubungkan dan mencocokkan) talenta digital untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia guna menunjang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE / E-government).

Baca juga: Kominfo: Transformasi digital didorong dari empat sektor penting

"Sudah saatnya Indonesia memperbaiki sistem penggalian kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja (link and match). Pasalnya, masih ada kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia pekerjaan," kata Zainal, dikutip melalui keterangan pers, Sabtu.

"Kita harus memiliki seni tersendiri untuk mempertajam link and match. Pengajar masih lebih dominan daripada siswa dan mahasiswanya," ujarnya menambahkan.

Lebih lanjut, Zainal berpendapat, akar masalah yang didapati sekarang adalah dosen dan pengajar belum mengikuti perubahan zaman di era digital dalam hal materi ajar; mahasiswa belum menerima sistem pembelajaran yang proaktif (problem solving, project based learning, dan research based learning); sarana kurang mendukung skill set era digital; hingga prasarana kurang mendukung pembelajaran kolaboratif dan kerja sama tim.

"Solusinya bukan hal baru, kita bisa memperkuat simpul pengembangan SDM, memberdayakan kebijakan transformasi digital sebagai playing field SDM SPBE, mendorong kampus untuk mencetak talenta digital secara masif, mendukung Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) sepenuhnya, menerapkan pembelajaran berbasis computational thinking, mulai dari PAUD hingga Perguruan Tinggi, dan melengkapi ijazah dengan sertifikasi kompetensi," papar dia.

Baca juga: Siapkan talenta digital, Leap-Telkom Digital luncurkan beasiswa

Menanggapi proyeksi World Economic Forum bahwa lima tahun ke depan separuh dari pekerjaan yang ada akan tergantikan oleh mesin, Zainal mengutarakan, bahwa apapun jenis pekerjaan yang dimiliki saat ini, membutuhkan keterampilan baru agar bisa berdaya saing.

"Skill set yang baru itulah digital talent atau kecakapan digital. Mari, kita samakan persepsi, sederhananya digital talent adalah kemampuan seseorang beradaptasi dengan teknologi digital," kata Zainal.

Lalu, memahami tentang keberadaan teknologi Revolusi Industri 4.0, ada Artificial Intelligence (AI), Blockchain, Internet of Things (IoT), Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), 3D Printing, Drones, dan Robotics.

"Mungkin tidak semua teknologi bisa kita kuasai, tetapi sekurang-kurangnya sesuai dengan kemampuan, ada satu atau dua teknologi yang menjadi andalan. Jadi, NKRI bisa bermuara ke penguatan SDM talenta digital," imbuhnya.


Baca juga: Airlangga : pemerintah terus akselerasi penciptaan talenta digital

Baca juga: Kesenjangan digital perlu diatasi demi dorong digitalisasi inklusif

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2022