Hilangnya rasa aman perempuan di transportasi umum

Hilangnya rasa aman perempuan di transportasi umum

Penumpang berjalan di antara angkutan umum Mikrolet di Terminal Kampung Melayu, Jakarta, Kamis. Pelecehan seksual kerap terjadi di atas angkutan umum dengan korbannya adalah perempuan. (ANTARA/Reza Fitriyanto)

Jakarta (ANTARA News) - Kasus pemerkosaan yang dialami oleh RS (27) di dalam angkutan kota D-02 jurusan Ciputat - Pondok Labu pada Kamis (1/9) membuat warga Jakarta tercengang.

Pasalnya, kejadian itu berselang tak lama setelah kasus pemerkosaan serupa yang dialami mahasiswi Bina Nusantara, Livia Pavita Soelistio (22) pada pertengahan Agustus.

RS diperkosa oleh empat pelaku yakni A , YG, AR, dan SB, juga memaksakan hubungan badan secara bergilir. yang berada di dalam angkutan kota. Kejadian bermula ketika dirinya pulang kerja sekitar pukul 00.30 dengan menumpang Kopaja P19 jurusan Tanah Abang-Ragunan.

Dia turun di wilayah Cilandak untuk melanjutkan perjalanan ke arah Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Tak lama kemudian, datang angkot D02 mendekat dan menawari korban untuk mengantar langsung ke Pasar Rebo.

RS pun mengiyakan tawaran itu dan langsung naik ke angkot karena mengenal A, satu dari empat pelaku pemerkosa. Saat korban naik angkot, A mengajak untuk melakukan hubungan badan.

Korban pun menolak, tapi tetap dipaksa melayani nafsu pelaku. Pemerkosaan berlangsung selama angkot itu berjalan dan memutar-mutar di wilayah Trakindo hingga Cilandak.

Lain lagi, cerita pemerkosaan yang dialami Livia yang diperkosa RH dan A di mikrolet Mikrolet M24 jurusan Srengseng-Slipi pada Selasa (16/8).

Livia ditemukan tak bernyawa oleh penggembala kambing di selokan sedalam dua meter di Cisauk, Tangerang.

Peristiwa pemerkosaan yang berlangsung berdekatan ini, membuat sebagian perempuan pekerja di Jakarta yang biasa menggunakan angkutan umum was-was.

Seorang pekerja di salah satu mal di Jakarta Barat, Dewi Utami (27), mengaku was-was ketika naik transportasi umum.

"Kalau dulu pulang malam naik angkot biasa saja. Tapi kalau sekarang, sejak banyak kejadian pemerkosaan jadi takut," kata Dewi yang biasa menggunakan jasa angkot B03 jurusan Citraland-Tanjung Duren ini.

Dewi mengaku sejak kasus Livia dan RS mencuat ke permukaan, dirinya tidak berani pulang sendirian. Apalagi kalau pulang malam hari.

Dia pun memilih untuk pulang bersama dengan teman-temannya. Walaupun konsekuensinya tiba di rumah lebih malam.

Senada dengan Dewi, perempuan pekerja lainnya, Mariana (19), juga mengungkapkan ketakutannya ketika naik angkot.

"Apalagi kalau penumpang angkotnya lelaki semua. Mending tidak usah naik deh," tukas perempuan yang akrab disapa Maria ini.

Menurut Maria, bagi kaum perempuan saat ini lebih aman menggunakan Transjakarta. Cuma sayangnya, lanjut Maria, Transjakarta tidak menjangkau hingga ke sudut kota.

Data Polda Metro Jaya menyebutkan kasus pemerkosaan di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi hingga pertengahan September ini mencapai 40 kasus.

Pengawasan Lemah
Kriminolog dari Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, mengatakan pemerkosaan yang terjadi di dalam angkutan kota karena lemahnya pengawasan terhadap sarana transportasi umum.

Berbagai permasalahan yang kerap ditemui di transportasi umum, lanjut dia, adalah kurangnya jumlah angkutan, ketidaknyamanan hingga ketidakpastian jadwal.

"Pemerkosaan yang terjadi merupakan puncak dari masalah kecil yang sering dialami pengguna angkot, seperti penipuan, copet dan hipnotis, " terang dia.

Oleh karena itu, lanjut dia, perlu peningkatan pengawasan pemerintah terhadap transportasi umum, khususnya yang dikelola swasta.

Tips Cegah Pemerkosaan
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Baharudin Djafar, menyebutkan ada lima tips untuk mencegah pemerkosaan di angkutan umum.

" Pertama, jangan sendirian naik angkutan terutama pada malam hari," kata Baharudin.

Kedua, lanjut Baharudin, penumpang berpakaian yang sopan dan menutup aurat. "Jangan sampai pakaian yang digunakan menimbulkan syahwat," tambah perwira menengah ini.

Ketiga, lanjut dia, penumpang mengetahui angkutan umum yang dinaiki.

Keempat, identifikasi pengendara angkutan mulai dari baju yang dikenakan hingga bentuk muka.

"Terakhir, jika terjadi gangguan segera menghubungi pihak kepolisian," jelas Baharudin.

Dia juga mengimbau kaum perempuan untuk tidak takut dalam menghadapi kasus pemerkosaan yang terjadi di angkot ini.

"Tidak perlu takut dalam menghadapi kasus ini. Toh, semua pelakunya tertangkap," tukas Baharudin.

Polda Metro Jaya pun, tambah dia, sudah memerintahkan pada Polres untuk meningkatkan pengawasan. Khususnya di daerah yang rawan terhadap pemerkosaan.

"Mana yang daerah rawan atau bukan, itu ditentukan oleh Polsek," terang dia.

Selain itu, Baharudin juga meminta pada masyarakat untuk meningkatkan keamanan di lingkungannya. Sehingga rasa aman baik di lingkungan maupun transportasi umum tidak lagi menjadi barang mahal.
(ANT/013)

Oleh Indriani
Editor: Desy Saputra
COPYRIGHT © ANTARA 2011

KPU Cilegon tertibkan APK di jalur protokol dan angkutan umum

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar