Palembang (ANTARA News) - Presiden Asian Athletics Association (AAA), Maurice Nicolas, menilai Stadion Atletik Jakabaring di Palembang, Sumatera Selatan telah berstandar internasional, sehingga layak menggelar pertandingan SEA Games XXVI, 11-22 November mendatang.

"Untuk pertandingan SEA Games, venue ini sudah terbilang bagus, dan tinggal dirapikan saja bagian-bagian pendukungnya. seperti akses jalan dan kebersihan area," kata Maurice, di Palembang, Sabtu.

Maurice mengungkapkan bahwa kedatangannya ke venue atletik SEA Games (SEAG) itu, pada awalnya untuk melakukan pengujian beragam peralatan pertandingan, seperti scoring board dan foto finish.

Namun, mengingat peralatan itu belum dipasang, dia hanya sebatas meninjau hasil pembangunan infrastruktur, seperti lintasan pertandingan, lintasan stadion pemanasan, fasilitas ruang tes doping, dan tribun utama.

"Saya sebenarnya kecewa karena peralatan yang akan diperiksa belum terpasang, jadi saya akan mengunjungi Palembang lagi menjelang SEA Games nanti untuk memastikan kesiapannya," kata dia pula.

Dia menambahkan, meskipun telah memastikan stadion itu layak menggelar pertandingan internasional, tapi Maurice mengingatkan PB PASI harus tetap melegalkannya dengan meminta sertifikat International Association of Athletics Federation (IAAF).

"Pengurusan sertifikat itu membutuhkan waktu kurang lebih dua bulan, tapi setahu saya PB PASI telah mengurusnya sejak beberapa bulan lalu," ujar dia.

Pernyataan Maurice itu dibenarkan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Bob Hasan yang menambahkan bahwa sertifikat itu direncanakan akan dikeluarkan IAAF pada akhir bulan ini.

"Mengenai sertifikat telah diurus langsung ke IAAF di Monaco, sehingga tidak ada masalah lagi. Sertifikat itu sangat penting karena menjadi syarat untuk menggelar pertandingan berskala internasional," ujar Bob.

Dia melanjutkan, di Indonesia hanya dua stadion yang telah memiliki sertifikat IAAF, yakni Stadion Madya Gelora Bung Karno dan Stadion Atletik Sidoarjo.

"Sertifikat itu harus ada sebelum SEA Games. Meskipun Stadion Madya Senayan dan Stadion Sidoarjo memiliki sertifikat, tapi tetap saja pertandingan SEA Games tidak dapat digelar di sana, karena sebagian peralatan sudah usang. Jika harus dibenahi juga butuh waktu satu bulan," ujar dia pula.

Berkaitan bagian yang harus dibenahi, Bob menyoroti ketersediaan ruang tunggu atlet dan pelatih saat melakukan tes doping.

"Saya pantau langsung ke toilet dan tidak ada ruang tunggu untuk atlet yang melakukan tes doping. Padahal, untuk atlet maraton biasanya tidak dapat langsung keluar air seninya, mengingat telah terkuras keluar melalui keringat karena harus berlari kurang lebih dua jam," ujar dia lagi.

Dia melanjutkan, jika diberikan ruang tunggu itu, diharapkan para atlet tidak akan bosan menunggu giliran diuji air seninya.

"Bisa saja, atlet menunggu hingga dua jam lamanya. Sedangkan mereka tidak boleh keluar, karena dikhawatirkan air seninya ditukar. Jadi, boleh-boleh saja jika dipasang televisi," kata dia lagi.

Sedangkan, untuk fasilitas lainnya, Bob Hasan optimistis dapat selesai tepat waktu karena tinggal pemasangan peralatan dan pembersihan area.

"Gedung tidak masalah lagi. Sudah cukup oke. Tapi, jika mau eventnya lebih besar dari SEA Games, maka seluruh stadion harus dikelilingi tribun agar bisa menampung 25 ribu penonton," ujar dia pula.

Menyinggung perangkat pencatat skor Swiss Timing Omega yang digunakan, dia menyatakan tidak mempermasalahkannya karena telah banyak digunakan di stadion-stadion terbaik di dunia.

"Intinya pertandingan akan digelar sesuai dengan standar IAAF, di antaranya menggunakan peralatan foto finish, pencatat waktu eletronik dan scoring board, dan doping tes. Tidak perlu data harus `on venue result` karena ajang ini hanya sebatas SEA Games. Tapi, jika perusahaan IT yang ditunjuk memiliki kemampuan, lantas kenapa tidak," ujar dia.

Menurut dia, untuk memastikan jalan pertandingan sesuai dengan standar dan ketentuan IAAF, akan dihadirkan dua delegasi teknik asal Jepang dan Hongkong, perwakilan dari 8 negara pemantau, dan enam wasit internasional.

"Sementara ini fokus pelaksanaan adalah pada penyelesaian venue atletik di Jakabaring lebih dulu," ujar dia pula.


PASI Optimistis Sukses

PB PASI juga menyatakan optimistis dapat meraih sukses pada SEAG XXVI di Indonesia itu, meskipun tanpa peraih dua medali emas ajang serupa di Laos tahun 2009 lalu, Suryo Agung, kata Bob Hasan.

"Meskipun tanpa Suryo, PB PASI tetap optimistis meraih sukses. Atlet-atlet muda yang akan diturunkan sangat menjanjikan, apalagi nanti Indonesia menjadi tuan rumah," kata Bob.

Dia menerangkan, PB PASI pada SEAG di Indonesia ini banyak memberikan kesempatan kepada atlet-atlet muda untuk unjuk kemampuan, mengingat sebagai tuan rumah diizinkan menurunkan tiga atlet dalam satu nomor.

Sementara, negara-negara lain hanya boleh menurunkan dua atlet pada masing-masing nomor.

"Pada SEA Games nanti banyak diturunkan atlet-atlet muda, karena PB PASI ingin melakukan regenerasi. Tidak masalah terjadi penurunan prestasi asalkan atlet-atlet muda mendapatkan kesempatan tampil," ujar dia.

Meskipun demikian, dia tak menampik para atlet-atlet muda itu tetap ditopang seniornya, di antaranya Agus Prayogo, Jauhari Johan, Ni Putu Dessy, dan Dedeh.

"Memang tidak dipungkiri pada SEA Games nanti masih akan menurunkan atlet senior, karena memang saat ini mereka masih bisa jadi yang terbaik di wilayah Asia Tenggara," kata dia lagi.

Bob tidak berani mematok target raihan medali emas pada SEA Games mendatang.

"Target kita setidaknya menyamai raihan emas pada SEA Games Laos. Tapi, jika tidak bisa, lebih baik Indonesia kalah sekarang dan pada akhirnya dapat menuai sukses pada SEA Games berikutnya," ujar dia pula.

Dia menambahkan, PB PASI saat ini berkonsentrasi untuk melakukan pembinaan terhadap atlet-atlet usia muda atau junior untuk meraih prestasi di masa datang.

"Atlet-atlet yang dibina saat ini tingginya rata-rata sudah mencapai 180 cm, padahal masih berusia belasan. Ini menjadi sinyal positif bagi kemajuan prestasi atletik Indonesia ke depan," ujar dia.***6***
(ANT-037/B014)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011