Garut (ANTARA News) - Empat orang gadis dibawah umur warga Kabupaten Garut, Jawa Barat, menjadi korban trafficking atau perdagangan manusia yang dipekerjakan disalah satu tempat hiburan di Tarakan, Kalimantan Timur.

"Kasus trafficking menimpa warga Garut berhasil dibongkar oleh Polisi, sehingga mereka bisa kembali ke Garut," kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Garut yang ikut menangani masalah kasus tersebut, Nitta K Wijaya kepada wartawan, Minggu.

Empat gadis korban trafficking yakni inisial Iy (17) warga Kecamatan Pameungpeuk, Ha (15) warga Kecamatan Wanaraja, serta Dn (16) dan DW (17) warga Kecamatan Kadungora.

Terungkapnya kasus perdagangan manusia tersebut, kata Nitta merupakan hasil kerjasama antara LPA Garut dengan Unit Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) Polda Jabar.

Ia menerangkan kasus tersebut terungkap ketika salah seorang korban Iy mengaku telah ditipu oleh pihak yang menyalurkannya dijadikan sebagai wanita pekerja sek komersial (PSK) di salah satu tempat hiburan.

Korban Iy, kata Nitta menelepon orang tuanya di Garut dan mejelaskan kejadian yang menimpanya kemudian melaporkan pada pihak kepolisian.

Mendapatkan laporan tersebut, kata Nitta LPA Garut yang juga mendapatkan laporan bersama-sama dengan pihak kepolisian Polda Jabar melakukan penelusuran.

Polisi, kata Nitta akhirnya berhasil menangkap pasangan suami istri yakni Nenden berperan sebagai perekrut korban, sedangkan suaminya Melky bertugas mengirimkan korban ke Tarakan, Kalimantan Timur.

Selanjutnya aparat kepolisian berdasarkan hasil pemeriksaan kedua pasangan suami istri tersebut berhasil mengamankan empat orang gadis warga Garut di tempat pekerjaannya di Tarakan.

Dari keterangan korban, kata Nitta terjebak oleh tawaran pelaku saat berkunjung ke sebuah salon di Garut kota 11 Oktober 2011, kemudian berkenalan dengan Nenden.

Selanjutnya, kata Nitta, Nenden menawari korban lowongan pekerjaan di Tarakan, Kalimantan Timur, sebagai pelayan di sebuah kafe dengan gaji yang cukup besar setiap bulan.

Korban akhirnya diberangkatkan oleh Melki, namun setibanya di Tarakan, kata Nitta tidak bekerja di tempat Kafe seperti yang dijanjikan Nenden melainkan harus melayani kebutuhan biologis laki-laki.

"Dengan tawaran gaji cukup besar setiap bulan itu, korban tergiur dan mau diajak bekerja disana (Tarakan), tapi ternyata dipekerjakan sebagai pelayan nafsu laki-laki," jelas Nitta.

Sementara itu, empat korban yang masih berstatus pelajar itu, kata Nitta kini tinggal di kantor LPA Garut dan masih tampak shock serta tidak mau ditemui oleh siapapun kecuali pengurus LPA Garut.

"Kini mereka sedang kami upayakan melakukan rehabilitasi untuk mengembalikan mentalnya, karena mereka ternyata masih ingin sekolah," kata Nitta.

Sementara itu Kepala Unit PPA Polres Garut, Aiptu Wien Cheristia Ningsih belum dapat memberikan keterangan secara jelas terkait pengungkapan kasus perdagangan manusia menimpa warga Garut karena kasusnya masih dalam pengembangan Polda Jabar.
(U.KR-FPM/Y003)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011