Jakarta (ANTARA News) - Pimpinan Redaksi Kantor Berita Antara meminta maaf kepada calon Ketua Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) Sumaryanto Widayatin atas sebuah berita yang dianggap tidak akurat dan menyudutkan Deputi Bidang Infrastruktur dan Logistik Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.

"Kami datang untuk meminta maaf kepada Pak Sumaryanto, memberikan kesempatan kepada yang bersangkutan untuk klarifikasi dan hak jawab. Sementara secara internal, kami telah memberikan sanksi kepada wartawan yang menulis berita tidak akurat tersebut," kata Wakil Pemimpin Redaksi Antara Akhmad Kusaeni seusai pertemuan dengan Sumaryanto, di Jakarta, Rabu.

Bersama Direktur Komersial dan Teknologi Antara, Rully C. Iswachyudi, Kusaeni menjelaskan bahwa seorang wartawannya berinisial JS telah melakukan kesalahan prosedur jurnalistik.

Wartawan yang bersangkutan telah mengakui tidak melakukan cek dan recek atas informasi yang diterima melalui e-mail untuk berita dengan judul: PEMILIHAN KETUA IA-ITB SUDAH SEPERTI PILKADA, yang ditayangkan di Antara pada 28 Nopember 2011 pukul 23:20.

Berita tersebut diakui Kusaeni berdampak serius, berupa pencemaran nama baik atau kampanye negatif terhadap Sumaryanto Widiyatin menjelang pemilihan Ketua Ikatan Aalumni ITB.

"Seharusnya hal tersebut tidak perlu terjadi apabila ada verifikasi atas informasi yang diterima. Oleh karena itu, kami segera melakukan klarifikasi dan menyatakan berita tersebut tidak akurat," ujar Kusaeni.

Kepada Sumaryanto, Kusaeni juga menjelaskan bahwa Direktur Pemberitaan Antara Saiful Hadi telah menjatuhkan sanksi keras kepada JS. Terhitung mulai 30 Nopember 2011, Redaksi Antara `menggrounded` JS selama tiga minggu sampai ada keputusan final dari Ombudsman.

Ombudsman adalah lembaga internal redaksi yang menindaklanjuti keluhan pembaca atau pihak yang dirugikan oleh pemberitaan Antara, meneliti kesalahan produk jurnalistik dan wartawannya, serta memberikan rekomendasi tindak lanjut atas kesalahan tersebut kepada pimpinan redaksi.

"Untuk sementara, sebelum ada rekomendasi dari Ombudsman, JS dibebaskan dari tugas-tugas rutinnya," tegas Kusaeni.


Menerima permohonan maaf

Atas permintaan maaf tersebut, Sumaryanto menyatakan menerimanya asalkan dipublikasikan secara terbuka. Kemudian diadakan konferensi pers yang menjelaskan hal ihwal pertemuan pimpinan redaksi Antara dengan calon Ketua Umum Ikatan Alumni ITB tersebut.

Kepada wartawan, Sumaryanto menjelaskan bahwa dirinya jauh dari yang dituduhkan dalam pemberitaan. "Itu fitnah yang menyesatkan," tegasnya.

Sebelumnya, tim kampanye calon Ketua Ikatan Alumni ITB Sumaryanto Widayatin diberitakan melihat adanya upaya kampanye hitam yang dilakukan kandidat lainnya untuk mendiskreditkan atau menjatuhkan citra Sumaryanto.

Upaya kampanye hitam itu dilakukan dengan menghalalkan berbagai cara dengan tujuan agar citra Sumaryanto tercoreng, kata tim sukses Sumaryanto dalam keterangannya.

"Kami prihatin dengan model-model kampanye hitam lewat media massa seperti itu. Padahal masih banyak cara berkompetisi yang lebih sehat dan `fair` yang seharusnya dilakukan semua kandidat," kata salah satu anggota tim suksesnya.
(T.A017/J003) 

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011