Tegal (ANTARA News) - Tiga penderita kelamin ganda di Desa Sokasari, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, membutuhkan bantuan untuk pengobatan karena keluarga mereka tidak mampu menanggung biaya berobat

Tiga penderita kelamin ganda itu yakni Zakaria (8) dan adik kandungnya Topan (1), serta kakak sepupu mereka Santi (23). Mereka memiliki kelamin ganda sejak lahir dan hingga saat ini belum tersentuh perawatan medis karena keterbatasan ekonomi.

"Saya tidak mempunyai biaya untuk transportasi dan berobat ke puskesmas atau rumah sakit sehingga Zakaria dan Topan belum pernah diperiksa dokter," kata Seni (35), ibu dua penderita kelamin ganda itu di Tegal, Selasa.

Ia mengatakan, Zakaria yang anak nomor dua dari lima bersaudara dan Topan lahir dengan kelamin ganda. Bahkan, karena bingung menentukan jenis kelamin kedua buah hatinya tersebut, keluarga sepakat memperlakukan Zakaria dan Topan sebagai laki-laki.

"Keluarga sempat bingung menentukan jenis kelamin mereka, namun karena alat kelamin mereka menurut kami lebih mirip laki-laki maka keluarga memperlakukan Zakaria dan Topan seperti anak laki-laki pada umumnya," katanya.

Kedua orang tua Zakaria dan Topan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani tersebut mengaku, belum pernah membawa kedua putra mereka ke dokter untuk menjalani pemeriksaan medis karena ketiadaan biaya.

"Selama ini mereka tidak ada keluhan terkait kelainan pada alat kelaminnya, namun keluarga khawatir jika dewasa nanti akan mengalami nasib seperti sepupunya yang juga menderita kelamin ganda," katanya.

Santi, kakak sepupu Zakaria dan Topan yang juga menderita kelamin ganda mengaku, lebih memilih menjadi perempuan meskipun hingga usia 23 tahun, anak kelima dari tujuh bersaudara pasangan Dasori (70) dengan Poniah (65) tersebut tidak tumbuh payudara seperti perempuan pada umumnya.

Ia mengatakan, sejak usia 16 tahun mengalami menstruasi setiap bulan hingga saat ini. Namun ia juga bingung dengan suaranya yang seperti laki-laki.

"Gara-gara suara seperti laki-laki, saya pernah dikeroyok warga saat mengikuti pengajian di sebuah pondok pesantren karena dikira sebagai laki-laki yang menyamar perempuan dengan mengenakan jilbab dan masuk di ruangan jamaah perempuan," katanya.

Santi yang sehari-hari rajin membantu orang tuanya mencari rumput untuk pakan ternak tersebut mengatakan, sejak lahir diperlakukan seperti perempuan.

Namun, selain menyukai berbagai jenis mainan anak perempuan seperti boneka dan bunga ia senang bermain sepak bola.

"Menurut hasil pemeriksaan dokter yang memeriksa kelamin saya beberapa hari lalu mengatakan bahwa kelamin saya ganda, sehingga untuk menentukan apakah saya laki-laki atau perempuan maka harus diperiksa ke Rumah Sakit Kariadi Semarang," katanya.

Ia mengatakan, sejak lahir hingga berusia 23 tahun baru sekali memeriksakan kelainan pada alat kelaminnya ke puskesmas terdekat karena selama ini tidak memiliki biaya untuk periksa dan berobat .

Kepala Desa Sokasari Fatkhuroji mengatakan, hingga saat ini pemerintah desa sedang mengupayakan agar Santi dapat berobat hingga menjalani operasi kelamin di rumah sakit menggunakan kartu jaminan kesehatan masyarakat agar terbebas dari biaya pengobatan.

"Selama ini Santi ingin menjadi wanita, sehingga menurut dokter Puskesmas yang memeriksanya, Santi harus menjalani operasi kelamin karena selama ini ia menderita kelamin ganda, namun hingga kini keluarga belum memiliki biaya operasional selama menjalani pengobatan di Semarang," katanya.
(ANT-281/M029)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011