Taluqan, Afghanistan (ANTARA News/Xinhua-0ANA) - Setidaknya 20 orang termasuk seorang anggota parlemen tewas dan lebih dari 50 terluka dalam serangan bom bunuh diri di satu upacara pemakaman di provinsi Afghanistan utara Takhar pada Ahad sore, kata para pejabat.

"Ada serangan bunuh diri terhadap satu upacara pemakaman di daerah Sarhi-e-Sang, di ibu kota provinsi Taluqan pada sekitar pukul 14.30 waktu setempat Ahad dan saya mengkonfirmasi bahwa anggota Majelis Rendah parlemen Abdul Mutalib Baig termasuk di antara mereka yang tewas dalam insiden itu," kata juru bicara pemerintah provinsi Mohammad Faiz Dawhidi kepada Xinhua.

Sementara itu, seorang pejabat bagian pers Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengatakan bahwa setidaknya 20 orang, kebanyakan warga sipil tewas dan lebih dari 50 lainnya terluka dalam insiden itu.

"Satu upacara pemakaman, diadakan untuk tetua setempat, telah berakhir dan banyak orang meninggalkan daerah itu tetapi seorang pembom bunuh diri meledakkan rompi eksplosif-nya di tengah khalayak. Akibatnya sekitar 20 orang tewas dan lebih dari 50 terluka," kata juru bicara polisi di wilayah utara Lal Mohammad Ahmadzai kepada media setempat.

Ia mengatakan semua korban adalah warga sipil.

Semua yang terluka segera dibawa ke sebuah rumah sakit ibu kota provinsi untuk menerima perawatan, kata Dawhidi, dan menambahkan "banyak mereka yang terluka dalam kondisi kritis."

Sejauh ini tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Militan Taliban yang sebagian besar mengandalkan pemboman pinggir jalan dan serangan bunuh diri belum membuat komentar.

Pemberontakan yang dipimpin Taliban telah merajalela sejak kelompok militan itu mengumumkan untuk meluncurkan serangan pemberontak sejak 1 Mei melawan pasukan Afghanistan dan NATO yang dipimpin ditempatkan di Afghanistan.

Taliban juga memperingatkan warga sipil untuk menjauh dari pertemuan-pertemuan resmi, konvoi militer dan pusat-pusat yang dianggap sebagai sasaran yang sah oleh gerilyawan.

Rezim Taliban ditumbangkan oleh tentara asing yang dipimpin AS pada 2001 karena dianggap menyembunyikan pempinan Al Qaida, Osama bin Laden, yang dituding sebagai dalang serangan yang paling mematikan di beberapa kota Amerika sebelumnya.

(Uu.H-AK/C003)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011