Kartu Prakerja dinilai dukung akselerasi inklusi keuangan digital

Kartu Prakerja dinilai dukung akselerasi inklusi keuangan digital

Tangkapan layar Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari (kiri) dalam diskusi virtual diikuti dari Jakarta, Rabu (15/6/2022) (ANTARA/Prisca Triferna)

Jakarta (ANTARA) - Program Kartu Prakerja yang diluncurkan sejak April 2020 tidak hanya menawarkan pengembangan kemampuan tapi juga membantu akselerasi inklusi keuangan digital, menurut hasil studi Bank Dunia dan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K).

Dalam diskusi virtual dari Jakarta, Rabu, Sekretaris Eksekutif TNP2K Suprayoga Hadi memaparkan bahwa inovasi program Kartu Prakerja yang menggunakan ekosistem terintegrasi dengan implementasi pembayaran end-to-end digital dan multi-channel Government-to-Person (G2P).

Menurut dia hal itu, memberikan bukti nyata bagaimana teknologi digital dan finansial mempengaruhi efisiensi dan efektivitas program, serta meningkatkan pengalaman dan inklusi finansial para penerima.

Sepanjang triwulan terakhir 2021, Bank Dunia dan Sekretariat TNP2K melakukan kajian untuk mempelajari implementasi bantuan sosial tanggap darurat COVID-19, memahami kecukupan bantuan sosial dalam memenuhi kebutuhan penerima manfaat, dan mendukung reformasi lebih lanjut sistem pembayaran G2P.

Penelitian tentang Kartu Prakerja menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Survei telepon dilakukan pada 6-25 Oktober 2021 kepada 1.000 penerima Kartu Prakerja di 50 kecamatan yang tersebar di 50 kabupaten dan 25 provinsi.

Terdapat beberapa poin yang menjadi pesan kunci penelitian tersebut yaitu sekitar 96,1 persen dari keseluruhan jumlah penerima Kartu Prakerja merasa puas dengan pelatihan pertama mereka.

Baca juga: Airlangga: Kartu Prakerja kisah sukses transformasi pelayanan publik

Baca juga: Direktur PMO: Penting kolaborasi dengan swasta untuk Kartu Prakerja


Penelitian itu juga menemukan penggunaan uang elektronik sebagai salah satu metode pembayaran berkontribusi positif terhadap tujuan inklusi keuangan.

Kajian tersebut menemukan bahwa 76,6 persen penerima manfaat lebih memilih menggunakan rekening uang elektronik untuk menerima insentif usai pelatihan, sementara selebihnya memilih rekening bank.

Selain itu, perluasan lebih banyak opsi penyedia rekening bank untuk menerima insentif pasca pelatihan dapat meningkatkan penggunaan rekening bank.

Penambahan satu bank swasta di awal tahun ini merupakan tambahan yang disambut sangat baik terkait gagasan ini dengan hampir 90 persen penerima manfaat menganggap bahwa Kartu Prakerja telah menyediakan cukup pilihan Penyedia Jasa Pembayaran (PJP).

Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari dalam kesempatan itu mengatakan sebagai seorang ekonom, ia menggarisbawahi prinsip "Makin banyak pilihan makin bagus".

Hal itulah yang menjadi nafas program Prakerja, termasuk dalam memberikan kebebasan pesertanya memilih rekening yang digunakan untuk pencairan insentif baik bank maupun dompet elektronik.

"Dengan fakta begitu banyaknya masyarakat Indonesia memiliki telepon seluler, membuat kita bisa mengembangkan inklusi keuangan, berkolaborasi dengan lembaga-lembaga keuangan digital yang makin banyak tumbuh. Ini juga terkait banyak bank dan kantor pelayanan publik tidak beroperasi saat puncak pandemi lalu," tutur Denni.

Baca juga: Kemnaker: Penerima Kartu Prakerja harus maksimal gunakan insentif

Baca juga: Kemnaker mendata 2,8 juta pekerja untuk bisa mendaftar Kartu Pra-Kerja

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar