Singapura (ANTARA) - Harga minyak naik tipis pada awal perdagangan Asia pada Rabu, karena OPEC berpegang pada perkiraan pertumbuhan permintaan bahan bakar global yang kuat, mengimbangi kekhawatiran kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed) AS lainnya minggu depan setelah harga konsumen secara tak terduga naik pada Agustus.

Harga minyak mentah berjangka Brent terdongkrak 3 sen menjadi diperdagangkan di 93,20 dolar AS per barel pada pukul 01.16 GMT, setelah turun 0,9 persen pada Selasa (13/9/2022). Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS berada di 87,41 dolar AS per barel, naik 10 sen atau 0,1 persen.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Selasa (13/9/2022) mengulangi perkiraan untuk pertumbuhan permintaan minyak global pada 2022 dan 2023, mengutip tanda-tanda bahwa ekonomi utama bernasib lebih baik dari yang diharapkan meskipun ada hambatan seperti lonjakan inflasi.

Permintaan minyak akan meningkat sebesar 3,1 juta barel per hari (bph) pada 2022 dan 2,7 juta barel per hari pada 2023, OPEC mengatakan dalam laporan bulanan, membiarkan perkiraannya tidak berubah dari bulan lalu.

"Pergerakan harga minyak yang tangguh menunjukkan bahwa kekurangan pasokan masih menjadi masalah utama di pasar fisik, terutama setelah OPEC mempertahankan prospek permintaan positif pada Selasa (13/9/2022)," kata Analis CMC Markets, Tina Teng.

Harga minyak juga didukung oleh laporan bahwa pemerintahan Biden AS sedang mempertimbangkan untuk mengisi kembali cadangan minyak strategisnya, serta ekspektasi pasar yang lebih rendah untuk kebangkitan kembali kesepakatan nuklir 2015 Barat dengan Iran, kata analis ANZ Research dalam sebuah catatan.

Baca juga: Harga minyak jatuh, setelah inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan

Namun, membebani pasar minyak dan keuangan adalah laporan inflasi AS yang lebih panas dari perkiraan pada Selasa (13/9/2022) yang menghancurkan harapan bahwa Fed dapat mengurangi pengetatan kebijakan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Pejabat Fed akan bertemu pada Selasa (20/9/2022) dan Rabu (21/9/2022) depan, dengan inflasi tetap jauh di atas target bank sentral AS 2,0 persen.

Di China, pembatasan ketat COVID-19 yang sedang berlangsung menekan permintaan bahan bakar di importir minyak terbesar dunia tersebut.

"Kebijakan nol-COVID China tetap utuh dan itu akan membuat rebound yang muncul selama beberapa minggu mendatang dibatasi," kata Analis Pasar Senior OANDA, Edward Moya, dalam sebuah catatan.

"AS adalah wildcard besar dan jika prospek permintaan itu melemah, minyak dapat melanjutkan lintasan penurunannya yang telah ada sejak awal musim panas."

Di sisi pasokan, stok minyak mentah AS naik sekitar 6 juta barel untuk pekan yang berakhir 9 September, menurut sumber pasar yang mengutip angka American Petroleum Institute (API) pada Rabu. Sementara itu, pemerintah AS akan merilis data persediaan minyak pada Rabu pukul 14.30 GMT.

Baca juga: Harga minyak turun, tertekan pembatasan COVID China dan naiknya bunga

 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2022