Fondasi dari filosofi keberpihakan kepada murid sebetulnya sudah diletakkan oleh Bapak Pendidikan Nasional yaitu Ki Hadjar Dewantara melalui azas yang dikedepankan Taman Siswa
Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek Iwan Syahril menyebutkan bahwa konsep pendidikan yang berpihak kepada murid merupakan kunci bagi seseorang untuk menjadi guru profesional.

“Setiap guru, dan ini kalau kita lihat NBPTS di Amerika Serikat, nomor satu standar pertama itu bukanlah standar bisa memberikan materi atau bisa mengajar, tapi tentang komitmen yang berpihak pada murid. Itu yang menjadi kunci untuk menjadi seorang guru profesional dan itu kita temukan di Guru Penggerak,” katanya dalam “5th SPK National Convention” yang digelar di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Senin.

National Board for Professional Teaching Standards (NBPTS) adalah lembaga independen di AS yang memberikan sertifikasi bagi guru yang ingin meningkatkan standar kualifikasinya.

Di AS tidak ada peraturan secara nasional mengenai sertifikasi guru, walaupun secara nasional guru harus bersertifikat.​​​​​​​ Tidak ada lembaga pemerintah yang memberikan sertifikat​​​​​​​.

Dirjen menegaskan bahwa fondasi dari filosofi keberpihakan kepada murid sebetulnya sudah diletakkan oleh Bapak Pendidikan Nasional yaitu Ki Hadjar Dewantara melalui azas yang dikedepankan Taman Siswa.

Azas dari Ki Hadjar Dewantara berbunyi bahwa seorang pendidik haruslah bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, tidak untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada sang anak.

Menurut Iwan filosofi tersebut dapat dijumpai dalam Program Guru Penggerak.

“Artinya totalitas kita, untuk kita betul-betul melihat anak sebagai sumber utama dalam pembelajaran, inilah yang harus dikejar. Dan itu sebenarnya sebuah filosofi pendidikan yang sudah diletakkan fondasinya oleh Bapak Pendidikan kita sendiri,” katanya.

Baca juga: DPR minta Mendikbud kembali konsep Merdeka Belajar Ki Hadjar Dewantara

Baca juga: Praktisi pendidikan: Bumikan lagi ajaran Ki Hadjar Dewantara


Dia memandang Program Guru Penggerak sebagai transformasi pendidikan yang fundamental yang terjadi dalam skala besar. Iwan juga menyebut guru-guru di daerah yang terlibat dalam program tersebut sebagai pemecah masalah (problem solver) walaupun memiliki keterbatasan.

“Mereka problem solver, bukan berarti mereka tidak punya masalah, mereka banyak sekali masalah. Tapi cara membicarakan masalah itu dengan mindset ‘Saya apa yang kemudian bisa saya lakukan’, bukan menjadi tidak berdaya atau tidak bisa apa-apa,” katanya.

Selain itu, para guru dalam Guru Penggerak juga mengedepankan semangat egaliter terlepas dari pangkat atau jenjang manapun serta mengedepankan semangat belajar walau melalui akses pembelajaran jarak jauh.

Ia mengatakan Kemendikbudristek berharap dapat menghasilkan 300 sampai 400 ribu guru-guru penggerak hingga tahun 2024 yang akan menjadi generasi baru kepemimpinan pendidikan Indonesia. Dengan jumlah tersebut, maka diharapkan seluruh kabupaten/kota dan provinsi di Indonesia memiliki SDM andalan dalam ekosistem pendidikan.

“Kepala sekolah, pengawas sekolah. Mereka akan menghasilkan keputusan-keputusan yang menomorsatukan murid dalam setiap keputusannnya. Itu yang kita cari, itu yang kita butuhkan. Bukan lagi fokus kepada administrasi, tapi fokus kepada pembelajaran merdeka,” demikian Iwan Syahril.

Baca juga: PGRI: Mundurnya pendidikan akibat abaikan nasihat Ki Hajar Dewantara

Baca juga: Kemendikbud : penting hasilkan guru yang berpusat pada murid

Baca juga: Guru masa depan harus mampu persiapkan murid dengan kompetensi abad 21

Baca juga: KPAI minta guru peka terhadap permasalahan yang dialami murid


 

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Andi Jauhary
Copyright © ANTARA 2022