Artikel

Popy berhasil kuliah dan wirausaha dengan dorongan Kartu Prakerja

Oleh Prisca Triferna Violleta

Popy berhasil kuliah dan wirausaha dengan dorongan Kartu Prakerja

Alumni Program Kartu Prakerja, Ni Wayan Popy Widyantari, ketika ditemui ANTARA di acara Kartu Prakerja di Bali, Selasa (15/11/2022). ANTARA/M Al Kahfie Kamaru.

Jakarta (ANTARA) - Ketika Ni Wayan Popy Widyantari mendaftar menjadi peserta Kartu Prakerja pada 2020, tidak disangka akan membantunya menjadi wirausaha hingga saat ini, meski awalnya hanya ingin mendapatkan insentif demi membantu keuangan keluarga.

Di awal 2020 ketika kasus COVID-19 pertama terkonfirmasi di Indonesia, pemerintah langsung melakukan pembatasan mobilisasi masyarakat untuk menekan penyebaran infeksi yang lebih luas. Bali adalah salah satu yang terdampak kebijakan itu, ketika persyaratan penggunaan transportasi yang ketat membuat kunjungan wisatawan menurun.

Hal itu juga berdampak kepada keluarga Popy yang mengandalkan pemasukan sebagai pedagang, ketika terjadi penurunan daya beli di masyarakat karena berkurangnya pendapatan.

Di awal pandemi, bahkan pernah ada masa ketika hanya tersisa cukup uang untuk membeli beras bagi keluarganya, yang beranggotakan delapan orang.

Perempuan berusia 21 tahun itu kemudian melihat berita online mengenai Kartu Prakerja dan membaca komentar tentang insentif yang dijanjikan dari pemerintah ketika telah menjalani pelatihan.

Diterima di Gelombang 5, mahasiswi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) di Singaraja, Kabupaten Buleleng, itu kemudian memilih pelatihan Microsoft Excel, customer service dan korespondensi.

Pelatihan Microsoft Excel dan customer service dipilihnya karena latar belakang kuliah, terkait ilmu ekonomi. Sementara, korespondensi karena untuk membantunya menuliskan surat elektronik ketika melamar pekerjaan.

Menyelesaikan pelatihan, ia kemudian mendapatkan insentif yang dimanfaatkannya untuk membantu perekonomian keluarga, yaitu berjualan sayur.

Dengan latar belakang kedua orang tua yang pernah menjadi pedagang sayur di sebuah pasar tradisional di Singaraja, ia kemudian memberanikan diri untuk menjadi penjual sayur.

"Saya jualan sendiri. Dibantu kadang-kadang keluarga, tapi akhir-akhir ini seringnya sendiri," kata Popy, ketika ditemui di acara Kartu Prakerja di Bali.

Ketika banyak orang memilih untuk menjadi wirausaha secara daring atau online, Popy memilih menjadi pedagang sayur karena sudah mengenal sistem dan cara berjualan dengan baik untuk mendapatkan keuntungan lebih maksimal.

Berjualan sayur itu juga dilakukan Popy untuk mendukung pendidikannya.

Pada 2020, ketika pandemi baru mulai terjadi, meski telah diterima di sebuah perguruan tinggi negeri, dia tidak dapat mengambil kesempatan itu karena belum memiliki dana yang cukup.

"Dari insentif itu bisa berjualan kemudian nabung selama satu tahun, akhirnya berani daftar lagi dan lolos. Jadi pakai uang tabungan itu buat biaya pendaftaran dan lain sebagainya," kata dia.

Berkat tabungan yang dihasilkan dari berjualan sayur itu, Popy akhirnya dapat menjadi mahasiswi di Program Studi Pendidikan Ekonomi Undiksha.

Tidak hanya insentif, dia juga memanfaatkan kemampuan menggunakan Excel dari pelatihan Kartu Prakerja dalam usahanya untuk pembukuan.

Popy harus pintar membagi waktu antara kuliah dan usahanya. Dulu, ketika perkuliahan masih dilakukan daring secara penuh, dia terkadang berkuliah sambil menjaga dagangannya di pasar. Dengan bermodalkan ponsel pintar dia akan mendengarkan kuliah sambil melayani pembeli.

Kini ketika perkuliahan sudah kembali dilakukan tatap muka, Popy akan berjualan sampai kira-kira pukul 07.30 WITA sebelum digantikan oleh kakaknya.

Pulang kuliah, anak ketiga dari enam bersaudara itu akan kembali ke pasar. Salah satunya untuk melakukan tawar menawar dengan tengkulak untuk sayur yang akan dijualnya pada esok hari.

Dari usaha berjualan sayur mayur itu, dia setiap harinya mendapat keuntungan bersih sekitar Rp200 ribu ketika dagangan habis.

Ke depan, Popy berencana melanjutkan usahanya dengan modal yang lebih besar untuk menambah produk yang dia jual. Di saat bersamaan, dia juga ingin tetap menekuni profesi guru.

Alasannya tetap bertahan ingin menjadi guru adalah karena bermimpi dapat membantu anak-anak mencapai cita-cita, dimulai dengan rajin belajar dan menabung. Pengalamannya harus berusaha mandiri untuk meraih pendidikan lebih tinggi semakin mengukuhkan hal itu.

"Buat nanti bisa giniin murid-murid aku ‘kalian belajar ya, nabung ya,’ sekalipun tidak bisa bantu banyak orang, setidaknya mulai dari sekolah," tuturnya.

Pandemi yang datang memberikan pelajaran tambahan bagi Popy, bahwa tidak boleh hanya bergantung pada satu usaha untuk mendapatkan pendapatan. Wirausaha dapat menjadi salah satu ladang baginya mendapatkan pemasukan sambil tetap berusaha meraih cita-cita sebagai guru.

Pengalaman lewat Kartu Prakerja juga membantunya menjadi lebih mandiri dengan berwirausaha dan meningkatkan keterampilan.


Mandiri lewat wirausaha

Kartu Prakerja adalah program yang bertujuan meningkatkan kompetensi para pekerja di Indonesia. Dalam hal ini, pemberdayaan perempuan memiliki porsi yang perlu menjadi perhatian untuk mewujudkan pekerja Indonesia yang lebih terampil.

Untuk itu, upaya memperkuat kapabilitas dengan keterampilan baru atau reskilling dan meningkatkan kemampuan atau upskilling perlu terus dilakukan.

Hal itu penting dilaksanakan mengingat Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan yang jauh di bawah laki-laki, yaitu 54,2 persen dibandingkan 83,6 persen, menurut data BPS per Februari 2022.

Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari mengatakan bahwa kehadiran berbagai macam pelatihan yang disediakan ekosistem Kartu Prakerja dapat mendorong kemandirian perempuan, baik lewat sektor formal maupun berwirausaha mandiri.

Secara khusus dia menyoroti Kartu Prakerja telah menjangkau lebih dari 16,45 juta penerima manfaat dengan 55,1 persen di antaranya adalah perempuan.

Pelatihan yang diberikan juga tidak terbatas meningkatkan kemampuan bagi yang ingin bekerja di sektor formal, tapi bagi mereka yang ingin membuat usaha atau berjualan.

"Hal itu terbukti di Program Kartu Prakerja. Banyak perempuan mengambil pelatihan keterampilan berbisnis dari rumah, bekerja dari rumah, seperti menjadi telemarketing, programmer, customer service, dan lain-lain," ujarnya.

Kisah seperti Popy, dari yang tidak pernah berjualan hingga dapat membuka usaha sendiri, dapat menjadi contoh nyata peran Kartu Prakerja untuk mendorong kemandirian dan peningkatan keterampilan perempuan.


 

Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar