Masyarakat harus mengetahui, bahwa TNLL tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Sulteng, tetapi juga masyarakat dunia.
Palu (ANTARA News) - Masyarakat diminta untuk ikut menjaga dan mengamankan taman nasional dan bukan sebaliknya merusak hanya karena kepentingan pribadi.

"Taman nasional harus dijaga karena bukan hanya menjadi aset bangsa Indonesia, tetapi merupakan paru-paru dunia," kata Kepala Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) Harijoko Prasetyo, di Palu, Selasa.

Ia mengatakan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) merupakan paru-paru dunia yang selama ini banyak dikunjungi berbagai wisatawan mancanegara, dan juga menjadi tempat penelitian.

Menurut dia, jika keberadaan TNLL tetap terjaga dan terpelihara dengan baik akan sangat bermanfaat tidak hanya kelangsungan hidup flora dan fauna, tetapi bagi orang banyak. Masyarakat harus mengetahui, bahwa TNLL tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Sulteng, tetapi juga masyarakat dunia.

Harijiko mengaku masih ada gangguan di dalam kawasan taman nasional itu, tetapi dari tahun ke tahun semakin berkurang. Memang masih ada perambahan dan juga kegiatan "illegal logging", namun sudah menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat yang bermukim di dalam maupun luar kawasan TNLL semakin tinggi. Dari beberapa kasus yang ditemukan BBTNLL, masih ada warga yang membuka kebun dalam kawasan seperti di Desa Watumaeta, Kecamatan Lore Selatan, Kabupaten Poso dan Lindu, Kabupaten Sigi.

Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga dan mengamankan kawasan hutan lindung tidak terlepas dari partisipasi jajaran pemerintah kecamatan, desa, serta para tokoh masyarakat dan adat dalam memberikan pemahaman kepada warga.

Partisipasi aktif dari semua pihak yang terlibat, terutama pemerintah kecamatan dan desa serta tokoh masyarakat dan lembaga-lembaga adat di desa masing-masing, cukup bagus. Hal itu bisa dilihat dari jumlah kasus penyerobotan areal hutan untuk dijadikan kebun oleh warga terus mengalami penurunan yang cukup mengembirakan.

Wilayah itu masih cukup rawan pembukaan lahan kebun dan juga pencurian kayu. Petugas TNLL terus melakukan patroli pada wilayah yang selama ini cukup rawan pembatatan hutan, dan pencurian hasil hutan berupa rotan dan kayu.

TNLL saat ini dihuni sekitar 117 jenis mamalia, 29 reptilia, 14 jenis amfibi, dan lebih dari 50 persen di antaranya satwa endemik Sulawesi yang selama ini hidup di kawasan hutan itu.

(BK03)

Editor: Ella Syafputri
Copyright © ANTARA 2013