Bandung (ANTARA News) - PT Jamsostek dan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung menjajaki kerja sama pemberian pembekalan kepada calon sarjana sebelum mereka diwisuda.

Direktur Renbang dan Informasi PT Jamsostek Agus Supriyadi seusai pemaparan di "Jamsostek Goes to Campus" di Kampus UPI, Bandung, Jumat, menjelaskan pembekalan sebelum kerja tentang manfaat jaminan sosial dibutuhkan agar sebelum memasuki dunia kerja, calon sarjana memahami hak normatifnya sebagai pekerja.

Penanaman sadar jaminan sosial sejak usia dini (sebelum) mahasiswa memasuki dunia kerja sangat dibutuhkan karena pada banyak kasus para pekerja tidak memahami hak normatifnya sebagai pekerja, seperti jaminan perlindungan dari risiko kerja.

Jaminan sosial adalah hak normatif pekerja berupa perlindungan dari risiko kematian, sakit, kecelakaan, jaminan hari tua dan pensiun.

Iuran jaminan sosial berasal dari pemberi kerja dan pekerja dimana proporsi pemberi kerja lebih besar dari pada pekerja.

Kepala Divisi Pembinaan Mahasiswa UPI Syahroni mengatakan perlindungan bagi pekerja sangat dibutuhkan dan UPI memiliki pengalaman pahit ketika dua mahasiswanya yang melakukan kegiatan sosial (pengajar sukarela) di Aceh meninggal.

Karena itu, UPI akan menjajaki kerja sama dengan PT Jamsostek, tidak hanya pada pembekalan calon sarjana yang akan diwisuda dan memasuki dunia kerja, tetapi juga pada pekerja non-PNS yang saat ini bekerja di UPI.

UPI juga membuka kesempatan pemberian kuliah umum bagi mahasiswanya tentang jaminan sosial tenaga kerja dengan pembicara langsung dari PT Jamsostek.

Kepala Kanwil Jamsostek Jawa Barat, Teguh, mengatakan pola perlindungan temporer bagi mahasiswa PKL atau tenaga pengajar sukarela dapat dilaksanakan dengan mengacu pada program perlindungan Jasa Konstruksi yang juga temporer.

Pada kegiatan Jamsostek "Goes to Campus" yang akan dilaksanakan di 11 kampus besar di Indonesia, PT Jamsostek mensosialisasi program jaminan sosial kepada mahasiswa dan juga keluarga besar kampus.

Di UPI, Izzur Muchtar, penggiat seni dan personel Project Pop yang juga jadi pembicara, mengatakan sebagai seniman yang bekerja secara mandiri, dirinya merasa perlu untuk mendapatkan jaminan sosial.

"Kita tidak tau, kapan kita akan meninggal, celaka saat `shooting` atau mempersiapkan bekal di hari tua atau pensiun dari dunia seni," katanya.

Dia juga acap sedih jika melihat pekerja seni yang tua, sakit-sakitan dan tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak bersiap-siap memasuki usia tua.

Izzur berharap program jaminan sosial menjadi bagian kehidupan yang melindungan manusia Indonesia dari risiko kerja, apapun profesinya.
(E007/A011)

Pewarta: Erafzonm SAS
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2013