Khartoum (ANTARA News) - Para milisi suku Arab menembakkan beberapa roket, artileri dan senapan mesin berat selama pertempuran di seluruh wilayah luas Darfur, Sudan Selatan pada Ahad, kata sumber-sumber di kedua pihak.

Mereka mengatakan mereka belum bisa memberikan jumlah korban, namun kerusuhan suku yang memburuk tahun ini di Darfur telah menewaskan ratusan orang.

"Pertempuran menyebar di wilayah yang luas dan kedua pihak menggunakan senjata-senjata berat," kata sumber dari suku Taisha.

Suku Salamat yang menjadi lawannya mengatakan pertempuran berlanjut hingga Ahad malam.

"Pertempuran menyebar dari seluruh Rahad el Berdi sampai dekat Nyala," kata seorang sumber Salamat, yang seperti juga rekannya dari suku Taisha meminta untuk tidak disebutkan namanya.

Kedua pihak mengatakan, sengketa tanah memicu pertempuran.

Rahad el Berdi lebih dari 100 kilometer (60 mil) di sebelah barat daya kota terbesar kedua Sudan Nyala.

"Selama pertempuran ada beberapa kelompok, bukan bagian dari pertempuran, yang melakukan penjarahan ke desa-desa. Saya melihatnya sendiri," kata sumber Taisha.

Tidak ada sumber yang mengkonfirmasi penjarahan itu, dan mengatakan itu "tidak pernah terjadi sebelumnya."

Suku Salamat telah kadang-kadang bertempur dengan suku Misseriya, sekutu suku Taisha, di Darfur barat daya sejak April.

Lebih dari 20 orang tewas pada 27 Oktober ketika Misseriya dan Salamat bentrok di dekat kota Mukjar, barat laut Rahad el Berdi, kata PBB.

Pertempuran antar-etnis yang melibatkan kelompok-kelompok Arab itu telah menjadi penyebab utama kekerasan di wilayah Darfur barat-jauh Sudan tahun ini.

Khartoum yang mengalamai kekurangan uang tunai tidak bisa lagi mengontrol mantan sekutu suku Arabnya, dengan siapa itu sebelumnya orang-orang bersenjata melawan pemberontakan di wilayah tersebut, kata para pengulas, dan persaingan untuk memperebutkan sumber daya itu pun meningkat.

Dalam insiden terpisah, 21 anggota pasukan keamanan tewas ketika "kelompok bersenjata" menyerang konvoi kepala pemerintah di Kabupaten Girayda tenggara Nyala, kata Menteri Dalam Negeri Ibrahim Mahmoud Hamed.

Ia dikutip oleh kantor berita resmi SUNA tidak mengatakan adanya pertempuran di sana.

Hamed juga mengatakan pemerintah "sedang mempersiapkan untuk mengakhiri pemberontakan di Darfur pada akhir tahun ini".

Satu dekade pertempuran telah gagal menghentikan pemberontakan yang dilakukan oleh suku-suku non-Arab, yang memberontak atas apa yang mereka anggap para elit Arab telah mendominasi kekuasaan dan kekayaan Sudan, demikian AFP.
(H-AK/

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2013