Depok (ANTARA) - Kawasan agronomi Nara Puncak mengembangkan pertanian organik dengan sistem Integrated Farming yang terletak di Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

"Nara Puncak ini adalah bagian dari Nara Kupu Village yang ada di Depok, dan ada juga Nara Kupu Jogja di DIY. Nah saat ini kami juga mengembangkan sistem Integrated Farming di Megamendung Bogor dan sudah sekitar tiga bulan berjalan," ujar Field Manager Nara Puncak, Deni Efriyansah dalam keterangannya, Rabu.

Nama Nara sendiri sudah tidak asing dalam dunia pertanian organik dan edukasi wisata perkebunan, yakni Nara Kupu Village di Kota Depok dan Nara Kupu Jogja di Sleman, DIY.

Pengembangan pertanian organik ini mulai perencanaan pembukaan lahan, pengolahan Lahan, pembuatan pupuk organik, penyemaian benih tanaman penanganan panen sampai pemasaran produk ke wilayah Ibu Kota DKI Jakarta.

Lebih lanjut Deni menjelaskan, Nara Puncak mengembangkan pertanian menggunakan dua sistem terdiri dari sistem olah tanah dan sistem hidroponik.

Deni menjelaskan komoditas yang di budidayakan Kebun Nara Puncak saat ini terdiri dari tanaman Pakcoy, tomat, terong, cabai dan tanaman lainnya.

Menurut Deni, di Indonesia kini hanya sekitar 29 persen lahan pertanian yang memiliki kandungan bahan organik dua sampai tiga persen. Sementara itu, lanjutnya, hanya ada enam persen lahan pertanian yang mengandung bahan organik di atas tiga persen.

"Nara Puncak memproduksi pupuk organik sendiri, terdiri dari Pupuk organik eco enzim, pupuk organik POC/ pestisida nabati dan kompos organik untuk menjaga kesuburan tanah dan keadaan tekstur tanah itu sendiri," jelasnya.

Deni menegaskan, pihaknya terus melakukan uji coba untuk mengembangkan pertanian Integrated Farming System melalui perlakuan pertanian dari hulu ke hilir dengan menerapkan pertanian organik, memanfaatkan limbah yang ada di sekitar lingkungan kebun, sehingga dapat memproduksi sayuran sehat dan siap saji bagi konsumen.

"Ke depan konsep Nara Puncak juga akan mengikuti Nara Kupu Village atau Nara Kupu Jogja. Dimana bukan saja pertanian sayuran organik, tapi juga ada penangkaran rusa, unggas dan lain-lain. Bahkan juga nanti menjadi tujuan wisata edukasi bagi anak-anak sekolah dan sebagainya," ungkap Deni.

Deni pun mengaku optimis lantaran saat ini permintaan pasar terhadap sayuran organik terus meningkat, seperti halnya di Jakarta. Deni juga mengajak kalangan milenial untuk mulai menggeluti dunia pertanian organik, terutama dalam memanfaatkan lahan lahan kosong di perkotaan menggunakan sistem hidroponik.

"Bertani organik itu juga bisa mengurangi sampah kosmos ya jadi tidak ada sampah organik lagi, kemudian juga bisa mengurangi penggunaan plastik. Dan kami pun terbuka bagi teman-teman milenial yang tertarik ingin tahu bagaimana pembuatan pupuk atau pestisida organik, sehingga bisa diterapkan dengan hidroponik di tempat tinggal teman-teman," ujarnya.


Baca juga: Mentan sebut padi organik bisa jadi alternatif atasi krisis pangan

Baca juga: Petani milenial manfaatkan plasma ozon tingkatkan kualitas produk

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Nurul Aulia Badar
Copyright © ANTARA 2024