London (ANTARA News) - Awalnya Sifa dan Robert baru bisa membagi bagikan brosur yang dibuatnya kepada pengunjung pameran pariwisata terbesar di Belanda Vacantiebuer yang diadakan di setiap awal tahun di gedung Jaarbeurs Utrecht, Belanda.

"Saya pernah diusir petugas, karena membagi bagikan brosur paket wisata ke Indonesia," ujar Sifa kepada ANTARA London yang berkunjung ke stand Dari Java, di Vacantiebuer akhir pekan ini.

Dengan berbendera "Dari Java travel" pasangan suami istri Belanda Indonesia ini mencoba keberuntungan dengan menjual obyek wisata yang dimiliki Indonesia di Belanda membuka usaha biro perjalanan .

Setelah 10 tahun mengeluti industri pariwisata dengan menjual paket liburan ke Indonesia di berbagai pameran akhirnya Sifa dan Robert sudah bisa membuka stand sendiri. "Tahun ini kali ke delapan kami mengikuti pameran di Vacansiebush,yang berlangsung dari 14 hingga 19 Januari lalu," ujar Sifa dan Robert Feddes yang sering disapa dengan Bob.

Bob Feddes, anak kelima dari enam bersaudara yang menikahi moyang priyangan Sifa Silvana, 15 tahun lalu itu sekarang bisa bernafas legah dan menikmati usaha mereka dalam mempromosikan berbagai obyek wisata di Indonesia di Belanda.

Bahkan menurut pria kelahiran Juli 1969 itu, kini mereka juga melayani wisatawan Belanda dan Eropa yang akan berlibur ke Asia. "Kami menyediakan paket wisata ke berbagai negara di Asia," ujar Bob, lulusan dari Saxion HBO Tehnik Engeneer (Mesin)-Enschede yang hobby traveling yang akhirnya mempertemukannya dengan Sifa Silvana.

Menyuka berbagai buku bacaaan dan Mountain bike serta bersepedah dan kadang suka lari ini sudah mantap membangun usaha biro perjalanan di negerinya dan membawa wisatawan ke negara sang istri untuk berlibur.

Kerja keras kedua pasangan muda itu juga mendapat dukungan dari penguna jasa biro perjalanan Sifa dan Bob yang merasa puas dengan pelayanan yang mereka berikan.

"Kami memang mengutamakan kepuasan pelangan, dan tidak banyak mengambil keuntungan dari mereka," ujar Bob kepada ANTARA London di tengah tengah kesibukan Bob dan Sifa yang dibantu oleh driver Anton, yang membantu mereka dari Yogyakarta.

Bahkan banyak masyarakat Belanda yang mengunakan jasa Dari Java yang merasa puas dengan pelayanan Sifa dan Bob dan setiap kali liburan bersama keluarga mereka selalu menghubungi Sifa.

Maklum di Eropa, liburan sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidup masyarakat di Belanda. Bagaikan istilah "work hard and play hard" mereka bekerja keras dan begitupun dengan liburan yang umumnya sudah dirancang setahun sebelumnya.

Salah satu pelangan tetap Dari Java, ialah keluarga Wim dan Henny Oostebrink yang mengunakan jasa mereka untuk berlibur di pulau Jawa dan Bali pada bulan September tahun 2010 lalu.

Dua tahun kemudian Wim dan Henny mengajak rekannya Joke dan Henk berlibur ke pulau Sumatra, Jawa dan Sulawesi. "Saya sangat menikmati liburan ke Indonesia," ujar Henny, wanita Belanda.

Wim dan Henny pertama kali mengetahui Dari-Java melalui sistem mesin pelacak internet google, yang kemudian memesan paket Dari Java untuk mengurus perjalanan mereka ke Indonesia dan 2012 mengajak kawannya untuk mengunjungi Indonesia.

Menurut Henny, saat mereka berkunjung ke Sulawesi, masih membayangkan bagaimana upacara potong kerbau masih berbekas dalam ingatannya.

Setelah berpromosi dan bergelut dalam bisnis travel biro, Dari Java menjual obyek wisata sejak 10 tahun lalu di Belanda berhasil menyumbangkan wisatawan ke Indonesia yang setiap tahunnya menerima sebanyak 150 bookingan baik secara individu maupun dalam grup.

Paling tidak sekitar seribu turis Belanda dan orang Belanda yang tinggal di Prancis dan Jerman mengunakan jasa mereka, ujar Sifa yang melakukan promosi sampai ke Brusel, Berlin dan di Utreach dan berharap bisa melebarkan sayapnya di Inggris dengan mengikuti pameran pariwisata WTM London.

Menurut Sifa, banyak suka duka dalam menjual obyek wisata Indonesia diantaranya apa apa harus diurus sendiri. "Brosur kami cetak sendiri tentunya dengan bahasa Belanda," ujarnya yang mencetak sekitar 5.000 brosur flayer yang menjual obyek wisata seluruh Indonesia dan sayangnya mereka belum bisa menjual obyek wisata Raja Ampat.

Dikatakannya Dari Jawa telah memiliki SGR Stichting Garantiefonds Reisgelden, semacam asuransi yang memberikan jaminan kepada wisatawan.

SGR merupakan organisasi yang bertanggung jawab penuh untuk mengembalikan seluruh biaya atau uang wisatawan yang sudah keluar untuk membayar seluruh biaya perjalanan pada satu biro perjalanan yang kemudian biro perjalanan itu gulung tikar.

Suatu biro perjalanan mendapat kepercayaan penuh di pasaran atau kepercayaan masyarakat setelah biro perjalanan tersebut menjadi atau terdaftar sebagai anggota SGR, ujarnya.

Bercerita mengenai sejarah berdirinya Dari Java, Sifa yang senang bisa menjalin kontak dengan negara asal sementara sang suami Robert senang travelling seperti ke Australia, Hungaria, Selandia Baru, Kanada dan Indonesia.

Tetapi yang sangat menarik untuk Robert ternyata Indonesia karena kultur dan budaya yang sangat berkesan bagi Robert juga masyarakatnya yang selalu ramah dan selalu membantu. "Kita berdua selalu berkeinginan membantu lingkungan orang orang yang kurang mampu, ujarnya.

Keuntungan Dari Java pun digunakan oleh Sifa membantu pembangunan di kampungnya dan mensponsori berbagai proyek. Kami menjaga harga kami rendah dan kami mensponsori berbagai proyek di Indonesia. Kami ingin menawarkan alternatif untuk berwisata . Indonesia adalah negara yang sama sekali berbeda dengan identitas dan budaya sendiri, singkatnya, sebuah pengalaman yang tidak akan pernah lupa.

Dari Java membantu masyarakat di Eropa dalam melakukan petualang dengan harga terjangkau. Hal ini sesuai pula dengan nama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencoba mengkreatifkan bangsa sendiri di bidang perindustrian pariwisata untuk mendapat memenuhi kebutuhan ekonominya, ujar Sifa.(*)

Oleh Zeynita Gibbons
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2014