Pekanbaru (ANTARA News) - Upaya pemadaman kebakaran di Provinsi Riau hingga 14 hari Tanggap Darurat Asap belum membuahkan hasil optimal, dan jumlah hotspot diduga titik kebakaran bertambah menjadi 168 titik pada Selasa.

Berdasarkan data Satgas Tanggap Darurat Asap di Pekanbaru, pantuan terakhir satelit NOAA-18 menunjukan jumlah titik api bertambah dari Senin lalu (10/3) yang berjumah 145 titik. Sedangkan, total hotspot di Sumatera pada hari ini mencapai 259.

Sebaran hotspot antara lain di Kabupaten Rokan Hilir 46 titik, Kota Dumai (17), Kabupaten Bengkalis (27), Kepulauan Meranti (22), Siak (12), Pelalawan (16), Indragiri Hulu (1), dan Indragiri Hilir (27).

Kepala Divisi Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo, menginformasikan bahwa asap pekat masih menyelimuti Riau dan daerah sekitarnya. Berdasarkan pantauan satelit MODIS Terra dan Aqua, lokasi sumber asap kebakaran lahan dan hutan Riau.

"Sumber asap utama ada di Pulau Rupat, Dumai, Bengkalis, dan Kepulauan Meranti," katanya.

Ia mengatakan, sumber asap juga terlihat di Semenanjung Malaysia. "Asap dari Malaysia ada juga yang sampai ke Riau, tapi sedikit," ujarnya.

Upaya pemadaman oleh Satgas melalui udara hingga kini terus dilakukan. Begitu juga dengan modifikasi cuaca BPPT menggunakan pesawat Cassa dengan menyemai awan satu kali ke Rokan Hulu, Rokan Hilir, dan Siak sebanyak 1 ton garam. Selain itu, penyemaian sebanyak dua kali shorty ke Rokan Hulu dan Kampar sebanyak satu ton.

Sementara itu, upaya dari bom air menggunakan helikopter Sikorsky berhasil menjatuhkan 62 bom air di daerah Bukit Kapur, Dumai. Sedangkan, helikopter Kamov menjatuhkan 32 bom air Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis dan Kota Dumai sebanyak 15 bom air.

Kedua helikopter itu bisa menjatuhkan bom air seberat 4-5 ton sekali terbang.

Sedangkan, penggunaan dua helikopter jenis Bolco BNPB dan bantuan perusahaan berhasil menjatuhkan bom air sebanyak 34 kali di Langgam, 62 kali di Kepulauan Meranti, dan 30 kali di Bukit Kapur, Dumai.

Pewarta: FB Anggoro
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2014