Surabaya (ANTARA News) - Volume luapan lumpur yang terus meningkat dengan tingkat kepekatan dan suhu cukup tinggi, makin menyulitkan Tim SAR untuk mencari dan mengevakuasi dua korban ledakan pipa gas yang hingga kini belum ditemukan. Informasi yang diperoleh dari lokasi kejadian di Porong, Sidoarjo, Sabtu, menyebutkan, personil Tim SAR gabungan sejak pagi sudah melakukan pencarian terhadap korban yang diduga masih terendam lumpur, dengan menggunakan ponton escavator. Namun hingga beberapa jam, pencarian belum membuahkan hasil. Bahkan tim SAR terpaksa harus menghentikan operasi pencarian karena ponton escavator kemasukan lumpur dan berjalan miring. "Pencarian dihentikan sementara, karena alat escavator kemasukan lumpur yang cukup pekat," kata salah seorang petugas tim SAR. Menurut informasi, hingga saat ini diduga masih ada dua korban ledakan pipa gas milik Pertamina yang terjadi Rabu (22/11) malam yang belum ditemukan dan diduga kuat terbenam dalam lumpur. Mereka adalah Rudi Tri Hariadi, warga Blok B/II No.33 Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (TAS) I, Sidoarjo, tetangga Kapten (Inf) Affandi, Danramil Balongbendo yang juga tewas dalam peristiwa ledakan pipa gas Pertamina tersebut. Satu korban lagi diduga sopir dump truk yang belum diketahui identitasnya. Hingga saat ini, tim SAR sudah menemukan dan mengevakuasi sebanyak 11 korban tewas dalam musibah tersebut. Sementara itu, luapan lumpur yang makin meningkat, mengakibatkan sejumlah tanggul jebol dan mengakibatkan sejumlah wilayah, seperti Desa Kedungbendo dan Perumahan Tanggulangin Asri Sejahtera (TAS), tergenang lumpur hingga beberapa sentimeter. Timnas Penganggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo (PSLS) terus berupaya menutup tanggul-tanggul yang jebol dengan menggunakan sirtu.(*)

Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2006