PPA Terancam Gagal Penuhi Setoran APBN

Jakarta (ANTARA News) - PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) yang mengelola aset-aset eks BPPN terancam gagal memenuhi target setoran APBN 2007 sebesar Rp1,5 triliun, karena proses lelang aset kredit dan saham Texmaco gagal mendapatkan pemenang. "Untuk Rp1,5 triliun, kita harapkan awalnya dari lelang Texmaco, aset properti, aset saham BTPN juga akan masuk dan Bali Nirwana Resort (BNR). Kalau Texmaco gagal, memang bisa gagal setoran (tahun ini). Tapi menurut Menkeu, yang penting bukan setoran, melainkan 'governance' PPA yang baik," kata Wakil Dirut PT PPA, Raden Pardede, di Jakarta, Selasa. Dia menjelaskan sebenarnya secara setoran, PPA telah memberi setoran langsung Rp14,120 triliun kepada APBN dan secara total Rp16,101 triliun (dengan pajak), padahal sewaktu didirikan pada 27 Februari 2004 PPA hanya ditargetkan memberi setoran langsung Rp7,512 triliun dan setoran total Rp9,373 triliun. "Kalau dari rencana awal PPA, realisasi kita sudah melampaui target. Dan 2 tahun ke depan kualitas aset menurun. Kalau kita tidak dapat memenuhi, apa boleh buat?" katanya. Sementara itu, Dirut PT PPA, M Syahrial mengatakan pihaknya baru saja menerima kajian diagnostik Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) tentang tata kelola korporasi PT PPA. "Menurut BPKP, kita yang tertinggi untuk BUMN," katanya. Menurut Syahrial, dari total aset yang diterima PPA pada 27 Februari 2004 dengan nilai 11,885 triliun, nilai total aset yang dikelola per 31 Januari 2007 tinggal Rp4,305 triliun. Dia menjelaskan pihaknya berharap Surat Edaran Kepala BPN agar sertifikat aset properti dapat langsung dialihkan ke pemilik baru tanpa harus dialihkan ke pemerintah dahulu dapat segera keluar, sehingga pihaknya dapat segera melepas aset properti sebanyak 3.599 unit dengan nilai Rp1,807 triliun. Padahal, jelasnya, pihaknya harus mengeluarkan sekitar Rp13 miliar per tahun untuk pengelolaan aset properti tersebut. "Begitu kita dapat, langsung kita lelang," katanya. Demikian juga dengan Bali Nirwana Resort, yang menurutnya, "terlalu menggiurkan" untuk ditolak para investor di bidang pariwisata. Kedua aset tersebut, diharapkan dapat membantu memenuhi setoran PPA pada APBN 2007. Ditanya tentang kemungkinan perpanjangan masa tugas PT PPA yang akan berakhir pada 2009, Syahrial mengatakan pihaknya menyerahkan hal itu kepada pemerintah. "Ada satu institusi di Ditjen Kekayaan Depkeu, yaitu Direktorat Kekayaan Negara lain-lain. Pada akhirnya nanti seluruh residu (sisa-red) aset akan diserahkan ke Direktorat itu dan PPA tetap akan tutup pada waktunya," katanya Terkait dengan Texmaco, Syahrial juga mengatakan bahwa berdasarkan perhitungan PPA, dibutuhkan minimal sekitar Rp150 juta dolar AS untuk industri tekstil di bawah Grup Texmaco agar mereka dapat bergerak lagi. Sedangkan untuk melakukan revitalisasi total, dibutuhkan sekitar 250-300 juta dolar AS. (*)

COPYRIGHT © ANTARA 2007

Restrukturisasi, Krakatau Steel wacanakan pelibatan PPA

Komentar