counter

Cara Kang Emil tanggapi unjuk rasa sopir angkot

Cara Kang Emil tanggapi unjuk rasa sopir angkot

Walikota Bandung Ridwan Kamil (ANTARA FOTO/Agus Bebeng)

dari dulu kan saya sudah bilang musuh angkot itu pemotor. Sok (ayo) survei sama wartawan. Bus itu sangat sedikit
Bandung (ANTARA News) - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang biasa diakrabi dengan panggilan Kang Emiil mengomentari unjuk rasa ratusan sopir angkot di Balai Kota Bandung, Kamis, yang menuntut dia menghapus program bus sekolah gratis karena mempengaruhi pendapatan sopir angkot.

"Saya kira pendapatan teman-teman sopir angkot turun itu bukan karena bus sekolah ya, tapi karena pemilik kendaraan roda dua semakin banyak," kata Ridwan usai  meresmikan Kantor Berjalan BPN Kota Bandung di Pasar Induk Caringin.

Ia menyarankan media massa mengonfirmasi lebih lanjut demo sopir angkot kepada Dinas Perhubungan Kota Bandung.

"Ke Pak Didi Ruswandi (dari Dinas Perhubungan Kota Bandung) saja ya, tapi memang dari dulu kan saya sudah bilang musuh angkot itu pemotor. Sok (ayo) survei sama wartawan. Bus itu sangat sedikit," kata dia.

Kang Emil memastikan program bus sekolah gratis untuk pelajar dari Pemkot Bandung akan tetap dijalankan walaupun ditolak sopir angkot.

Ratusan sopir angkota berunjukrasa di Balai Kota Bandung menuntut Ridwan Kamil menghapus program bus sekolah gratis.

"Asal tahu saja bahwa sekarang penghasilan saya hilang 80 persen karena bus gratis, ini sudah lebih dari tiga bulan," kata Rosadi, sopir angkot jurusan Cicadas - Cibiru Kota Bandung.

Sopir angkot lainnya, Wawan, menambahkan penghasilannya kini tak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya gara-gara bus sekolah gratis itu.

"Kalau dulu saya bisa dapat uang Rp150 ribu, saat ini ia hanya mendapatkan rata-rata Rp60 ribu. Anak saya dua, satu TK, satu SD. Pengeluaran saja di atas Rp50 ribu sehari. Bisa dibayangkan kan beratnya beban hidup yang harus saya tanggung," kata dia.

Wakil Wali Kota Bandung sidak kawasan tanpa rokok

Pewarta: Ajat Sudrajat
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar