Dinas kebudayaan DIY gelar festival adat

Dinas kebudayaan DIY gelar festival adat

Aksi Diam Kamisan Di Yogyakarta Aktivis yang tergabung dalam Social Movement Institute (SMI) dan Kontras melakukan aksi demonstrasi di Tugu Pal Putih, DI Yogyakarta, Kamis (12/5/2016). Dalam aksinya mereka mendorong pemerintah DIY untuk meneguhkan kota Yogyakarta sebagai kota pelajar yang melindungi tiap gagasan alternatif, menjamin tumbuhnya industri kreatif dan memfasilitasi tiap perbedaan dengan cara yang arif serta bijak. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko) ()

Sleman (ANTARA News) - Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Festival Adat yang diikuti lima desa adat perwakilan kabupaten/kota di Lapangan Denggung, Kabupaten Sleman, Minggu.

Dalam Fdestival Adat tersebut masing-masing peserta menampilkan keunikan dan kekhasan adat budaya dan upacara tradisi masing-masing.

Lima peserta tersebut yakni Merti Dusun Tinalah dari Purwoharjo, Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, kemudian makanan khas "bongko" yang merupakan bagian dari upacara adat Nyadran Mbah Jobeh, Desa Petir, Rongkob, Kabupaten Gunung Kidul.

Selain itu, ada upacara adat Umbul Kamulyan dari warga Dayakan, Purwomartani, Kecamatan Kalasan. Kabupaten Sleman, Merti Dusun Pancuran dari warga Terong, Dlingo, Kabupaten Bantul dan Merti Code dari Jetis, Terban, Kota Yogyakarta.

Masing-masing membawa cerita dan sejarah dari fragmen kehidupan yang tumbuh di tengah masyarakat.

Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Umar Priyono mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi upaya pemerintah daerah untuk melestarikan upacara adat yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

"Apalagi DIY memiliki lebih dari 300 jenis upacara adat yang mengandung nilai luhur serta mencakup sekian banyak sisi kehidupan. Mulai dari kelahiran manusia hingga masa kematian, hubungan antar manusia, nilai kegotongroyongan, pelestarian lingkungan, hingga ungkapan rasa syukur atas hasil panen melimpah," katanya.

Menurut dia, banyak nilai keluhuran dalam upacara adat tersebut yang ditinggalkan nenek moyang kepada kita.

"Itu menjadi kekayaan budaya yang harus dilestarikan," katanya.

Ia mengatakan, upaya pelestarian sendiri meliputi tiga hal, yakni perlindungan, pemanfaatan, dan pengembangan.

"Kami berharap, agenda ini bisa memberikan manfaat yang lebih optimal bagi upaya pelestarian budaya. Partisipasi masyarakat menjadi kunci dalam melestarikan dan memajukan kebudayaan di Yogyakarta."

"Generasi muda diharapkan turut ambil bagian sebagai penjaga dan penerus perlindungan kelestarian upacara adat dan tradisi budaya lainnya," katanya.

Pewarta: Victorianus Sat Pranyoto
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar