Calo TKI berkeliaran di Kupang

Kupang (ANTARA News) - Warga Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur mulai dilanda keresahan menyusul berkeliarannya para calo tenaga kerja yang berusaha merayu para gadis desa menjadi TKI di luar negeri.

"Kami harapkan aparat kepolisian serius melihat fenomena ini, karena membuat warga menjadi tidak nyaman apalagi bagi mereka yang punya anak gadis," kata Fransisco Ximenes, warga Kecamatan Kupang Timur saat berdialog dengan anggota DPD RI asal NTT Abraham Paul Liyanto di Kelurahan Oesao, Rabu.

Ia mengatakan, para pencari tenaga kerja itu selalu mendatangi rumah-rumah penduduk lalu membujuk calon tenaga kerja agar bekerja di luar negeri.

Para calo itu memilih wanita yang masih berusia di bawah umur sebagai calon TKI untuk dipekerjakan di luar negeri.

"Harus ada tindakan tegas dari kepolisian agar aksi para calo tenaga kerja itu tidak menimbulkan keresahan warga di wilayah ini," ujarnya.

Para calon tenaga kerja ditampung selama beberapa hari di rumah milik calo tenaga kerja tersebut di wilayah Oelamasi, tak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Kupang.

Ia mengatakan, aksi para calo tenaga kerja ilegal itu harus dihentikan karena sangat meresahkan warga, karena proses rekrutmen dilakukan secara ilegal dan para pekerja tidak melalui proses pelatihanyang benar.

"Warga Kabupaten Kupang tidak menginginkan akan semakin banyak tenaga kerja asal NTT yang menjadi korban pembunuhan di Malaysia dan organ tubuhnya diambil para mafia pedagang organ tubuh manusia yang berkeliaran di Malaysia," katanya.

Anggota DPD RI, Ir Abraham Paul Lianto mengatakan, prekrutmen tenaga kerja yang akan dipekerjakan keluar negeri harus dilakukan perusahan yang legal. Selain itu para tenaga kerja harus melalui proses pelatihan sebelum dikirim sebagai tenaga kerja ke luar negeri.

"Informasi tentang banyaknya calo-calo tenaga kerja yang berkeliaran di wilayah ini akan disampaikan kepada Kepolisian untuk ditangani secara serius," ujarnya.

Pewarta: Benediktus Jahang
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar