Banjir matikan padi di ratusan Hektare sawah

Banjir matikan padi di ratusan Hektare sawah

Dokumentasi petani mendorong rakit berisi potongan tanaman padi yang dipanen dini akibat banjir bandang di area persawahan Besuki, Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (17/10/2017). (ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)

Muara Teweh, Kalimantan Tengah (ANTARA News) - Luapan banjir Sungai Barito dan anak sungainya, Sungai Montallat, mematikan tanaman padi di aeral persawahan seluas ratusan Hektare, di Kecamatan Gunung Timang dan Montallat, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.

"Di sejumlah desa sentra pertanian di kecamatan kami tanaman padi sawah yang mati akibat banjir beberapa kali terendam sekitar 300 Hektare," kata Camat Gunung Timang, Syahmiludin A Surapati, ketika berada di Muara Teweh, Sabtu.

Menurut Surapati, tanaman padi yang mati atau rusak ini tersebar di lahan persawahan Desa Rarawa, Kandui, Majangkan, Baliti, dan Ketapang. Adapun padi yang mati itu merupakan varietas impari maupun tanaman padi berteknologi Hazton.

Tanaman padi ini ada yang sudah berusia satu bulan lebih dan sebagian baru disemai, karena para petani di kecamatan ini tidak serentak menanam padi pada musim tanam Oktober-Maret ini.

"Kami telah melakukan pertemuan dengan Dinas Pertanian Barito Utara untuk mengajukan permohonan untuk mengganti tanaman padi yang rusak atau mati itu dengan benih yang baru kepada pemerintah," katanya.

Rencana pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian setempat akan mengusulkan untuk permintaan bibit atau benih padi yang mati itu kepada pemerintah pusat dan Dinas Pertanian Kalteng.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Barito Utara, Setia Budi mengakui tanaman padi sawah petani di dua kecamatan itu terendam banjir beberapa kali pada bulan lalu.

Luas tanaman padi berteknologi Hazton yang berendam banjir sekitar 675 hektare kemudian ditanaman tanaman padi sawah dengan pola tanam biasa.

"Info dari mantri tani di lapangan sekitar 60 persen tanaman apdi tersebut mati akibat terendam banjir," katanya.

Budi mengatakan tanaman padi Hazton yang mati itu bibitnya merupakan bantuan dari pemerintah dengan varietas padi hibrida dengan mendapat 50 kilogram per hektare setiap petani selian itu pupuk organik.

Terkait matinya tanaman padi Hazton akibat banjir, pihaknya akan melaporkannya kepada Pemerintah Pusat.

"Kita berharap pemerintah pusat mengganti benih padi baru lagi untuk menggantikan tanaman yang mati," ujar dia.

Pada musim tanam Oktober 2017 sampai Maret 2018 ditargetkan tanaman padi seluas 8.972 Hektare yakni padi sawah seluas 3.100 hektare tersebar di Kecamatan Gunung Timang, Teweh Tengah, Teweh Selatan, Teweh Timur, dan Montallat, sedangkan padi ladang seluas 5.872 Hektare tersebar di sembilan kecamatan.

Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar