Budaya baca dinilai rendah, padahal ada Gerakan Literasi Sekolah

Budaya baca dinilai rendah, padahal ada Gerakan Literasi Sekolah

Sejumlah guru kota Bandung mensosialisasikan gerakan Membaca Buku Geliats Kota Bandung di kawasan Balaikota Bandung, Jawa Barat, Senin (22/5/2017). (ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra)

Jakarta (ANTARA News) - Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amaliah menyoroti budaya membaca di kalangan siswa di Indonesia masih rendah, meskipun Pemerintah telah mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sejak 2015.

"Dari berbagai studi yang dilakukan menyimpulkan, budaya membaca di kalangan siswa masih rendah," kata Ledia Hanifa Amaliah, melalui pernyataan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Rabu.

Menurut Ledia, jika program GLS sudah ada namun budaya membaca di kalangan siswa dilaporkan masih rendah, itu artinya perlu ada evaluasi program secara menyeluruh.

Evaluasi yang dilakukan, kata dia, bagaimana sarana prasarana pendukung programnya. Bagaimana koordinasi lintas kementriannya dan terutama bagaimana implementasi di lapangan.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengingatkan, bahwa mengasah budaya membaca pada siswa akan sangat mempengaruhi kualitas generasi muda masa depan.

"Membaca dapat membantu siswa memperluas wawasan, menambah ilmu, mengolah pikiran dan menjadi batu pijakan sebelum menghasilkan karya tulis," katanya.

Namun, budaya membaca ini, kata dia, harus disiapkan, ditumbuhkan, diasah, dibimbing dan diberi sarana prasarana yang memadai, tidak cukup hanya diberi tugas, himbauan, lalu diharapkan tumbuh menguat dengan sendirinya.

Magister Psikologi ini menjelaskan, selama ini budaya baca di kalangan siswa di Indonesia seringkali hanya disederhanakan pada ukuran "minat baca".

Padahal, kata dia, budaya baca memiliki aspek lebih luas dan mendalam termasuk pada kemudahan akses, pembiasaan diri, contoh dari lingkungan, dan tentu saja kebijakan yang mendukung.

"Peraturan Menteri Pendidikan No 23 tahun 2015 memberikan terobosan penting dengan mewajibkan setiap hari ada 15 menit waktu membaca sebelum kegiatan belajar berlangsung, tetapi agaknya belum terealisir dengan baik," katanya.

Ledia memperkirakan, kendala itu karena belum tersedianya perpustakaan atau ada perpustakaan tetapi buku-bukunya kurang. Bisa juga karena kegiatan ini tidak rutin dilakukan, tidak ada evaluasi atau bisa jadi karena tenaga pendidik dan orangtua sendiri tidak memberikan contoh gemar membaca.

Pada kesempatan tersebut, Ledia meminta Pemerintah melakukan evaluasi program GLS secara menyeluruh dan melakukan penguatan program.

Dia mengusulkan, buku-buku di sekolah perlu diperbanyak, perpustakaan keliling untuk menjangkau masyarakat pedalaman juga perlu diperbanyak.

Para guru perlu diberi pelatihan dan penguatan program literasi, dan bahkan orangtua pun perlu digandeng untuk bersama-sama membangun budaya baca ini menjadi kebiasaan siswa.

"Tak cukup sampai di situ, untuk melengkapi semua desain gerakan literasi sekolah, penting membiasakan evaluasi program secara rutin dan berkala, baik evaluasi dari guru kepada siswa maupun dari dinas pendidikan kepada sekolah," katanya.

Pewarta: Riza Harahap
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Tingkatkan literasi, Pemprov Jabar hibahkan 24 Motor Baca

Komentar