Pertemuan IMF-WB

Bank Dunia bersama Jerman dan Inggris luncurkan pembiayaan risiko bencana

Bank Dunia bersama Jerman dan Inggris luncurkan pembiayaan risiko bencana

Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla (keempat kiri) dan CEO World Bank Kristalina Ivanova Georgieva-Kinova (kedua kanan) menjawab pertanyaan awak media usai kunjungan kehormatan di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10). Pertemuan tersebut membahas tentang mekanisme pengelolaan keuangan dalam penanganganan pascabencana. (ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Nicklas Hanoatubun)

"Kita dapat membantu negara-negara yang rentan bencana alam dengan asuransi atu pembiaayaan mitigasi risiko lainnya..."
Nusa Dua, Bali (ANTARA News) - Bank Dunia bekerja sama dengan pemerintah Jerman dan Inggris meluncurkan Fasilitas Pembiayaan Risiko Global (GRiF) sebesar 145 juta dolar untuk membantu mengatasi dampak keuangan yang dihadapi negara-negara rentan bencana alam.

Peluncuran fasilitas pembiayaan tersebut diumumkan dalam Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10), yang dihadiri pejabat senior Bank Dunia, Jerman, Inggris, dan negara-negara anggota Vulnerable 20 (V20), termasuk Indonesia.

"Bencana alam telah mengakibatkan sekitar 26 juta orang jatuh miskin setiap tahunnya karena melemahnya kekuatan ekonomi masyarakat yang diakibatkan gempa bumi, badai, banjir, dan musibah besar lainnya," ujar CEO Bank Dunia Kristalina Georgieva.

"Kita tidak dapat menghentikan kejadian yang mengerikan ini, namun kita dapat membantu negara-negara yang rentan bencana alam dengan asuransi atu pembiaayaan mitigasi risiko lainnya sehingga masyarakat mendapat pertolongan yang lebih cepat untuk bangkit," lanjut dia.

Mekanisme pembiyaan dan asuransi risiko bencana itu diharapkan dapat membantu pemerintah memiliki dana siap pakai ketika dibutuhkan untuk mengatasi guncangan saat bencana, sekaligus mendorong mereka untuk melakukan persiapan dan pengurangan risiko yang lebih baik.

GRif akan menyediakan fasilitas pembiayaan berjangka lima tahun untuk membentuk mekanisme program asuransi bencana nasional yang dapat mempermudah penyaluran uang bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana.

Sekretaris Parlemen Jerman Barthle mengatakan fsilitas baru itu akan membantu pemerintah mengakses pembiayaan risiko dan solusi asuransi untuk memobilisasi tanggap bencana yang efektif dan persiapan yang lebih baik dalam menghadapi bencana alam.

"Kunci dari efektivitas fasilitas baru ini adalah berfokus pada kelompok masyarakat yang paling miskin dan paling rentan," kata dia.

Berdasarkan data Bank Dunia, bencana alam telah mengakibatkan kerugian senilai 300 miliar dolar AS pada 2017 yang menjadi rekor tertinggi kedua yang pernah tercatat. 

Pemerintah negara-negara yang rentan bencanamenjadi pihak yang paling menanggung beban kerugian tersebut. Pada saat yang sama, masyarakat termiskin tidak hanya menjadi kelompok yang paling rentan terdampak secara langsung secara ekonomi, namun juga menanggung beban jangka panjang bagi masa depan mereka.

Fasilitas GRiF juga menyediakan bantuan teknis untuk mengembangkan, menguji, meningkatkan, dan memperbaiki solusi pembiayaan negara-negara V20. Pusat Perlindungan Bencana Global di London akan menyediakan ahli-ahli yang akan dikirim untuk bantuan teknis tersebut.

GRiF akan menjadi anggota dan secara langsung akan berkontribusi untuk mencapai target program InsuResilience Global Partnership yang diluncurkan dalam COP23 pada 2017.

Baca juga: ADB bertemu Presiden Jokowi, tawarkan bantuan tanggap darurat bencana

 

Pewarta: Azizah Fitriyanti
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar