counter

Mancini mulai menuai simpati menuju kebangkitan Italia

Mancini mulai menuai simpati menuju kebangkitan Italia

Pelatih tim nasional Italia Roberto Mancini. (REUTERS/Nigel Roddis)

Roma (ANTARA News) -  Setahun setelah hasil imbang 0-0 memalukan pada pertandingan playoff melawan Swedia yang membuat Italia gagal ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 60 tahun, hasil serupa kembali terulang saat melawan Portugal pada pertandingan Nations League hari Minggu lalu.

Tapi sambutan media lokal Italia ternyata jauh lebih positif jika dibandingkan dengan hasil pertandingan menghadapi Swedia.

Setahun yang lalu, Corriere dello Sport menulis, kekalahan dengan rata-rata 0-1 menghadapi Swedia adalah "rasa malu sepakbola yang tak tertahankan",  sementara Corriere della Sera memperingatkan: "Sepak bola Italia akan digempur oleh badai yang belum pernah terjadi sebelumnya".

Kegagalan ke Piala Dunia 2018 Rusia membuat  Gian Piero Ventura terpental dari kursi pelatih dan ia kemudian digantikan oleh Roberto Mancini sebagai nakhoda yang baru untuk membawa Italia menghadang badai dan menyelamatkan diri dari puing-puing yang ditinggalkan akibat kegagalan itu.

Sejak mengambil alih kursi pelatih pada Mei lalu, mantan pelatih Manchester City, Lazio dan Inter Milan itu berhasil membangun fondasi untuk masa depan yang solid, dan mulai mengembalikan reputasi buruk tim nasional di mata pendukung mereka.

Hasil imbang tanpa gol menghadapi Portugal  di San Siro, sudah  cukup bagus untuk memastikan posisi Italia di peringkat kedua di Nations League. Tapi bagaimanapun, Mancini memberikan gambaran mengenai tugas yang akan dihadang ke depan.

"Jalan masih panjang dan sedang bekerja, berupaya untuk merenovasi tim nasional dengan pemain muda dan pendekatan taktis yang berbeda," katanya.

The Nations League, kompetisi baru di daratan Eropa tersebut, merupakan ujian pertama bagi Mancini dan hasil imbang menghadapi Portugal tersebut setidaknya membuat Italia tetap bertahan di kelompok elit dan terhindar dari degradasi ke divisi dua karena mengungguli Portugal.

Mencetak gol adalah masalah utama yang dihadapi tim asuhan Mancini tersebut. Tapi bukan berarti mereka kurang usaha karena dalam empat kali pertandingan melawan Portugal dan Polandia, Azzurri melancarkan  53 tendangan, 12 diantaranya tepat sasaran, namun hanya menghasilkan tiga gol.

Pada pertandingan persahabatan menghadapi AS, Selasa lalu yang berakhir dengan kemenangan 1-0 di Belgia,  Italia membutuhkan waktu selama 94 menit sebelum Matteo Politano berhasil mencetak gol, meski menguasai  74 persen bola dan memiliki 17 percobaan tendangan ke  gawang.

Grafik di atas menunjukkan gaya permainan yang diperlilhatkan Mancini, yaitu mengandalkan kemampuan pemain tengah untuk melakukan serangan dengan format 4-3-3, sebuah strategi yang dianggap menyerupai pelatih  Maurizio Sarri saat menangani Napoli dan Chelsea.

Meski produktivitas gol masih menjadi keprihatinan utama, secara umum para pendukung Italia yakin bahwa suatu saat usaha tim nasional Italia akan membuahkan hasil.

Gazzetta dello Sport mengakui adanya peningkatan dengan mengatakan, "Kita dapat menghibur diri dengan tim nasional yang mulai meningkat, bermain bagus dan tahu cara bertarung", tetapi juga mengingatkan: "Pada Maret mendatang, kita tidak boleh lagi membuat kesalahan: jalan menuju Euro 2020 sudah dimulai. "

Ada peningkatan pada penampilan tim membuat  Mancini mulai merebut hati para pendukung dan itu terbukti ketika Stadion San Siro penuh sesak oleh 73.000 penonton saat menyaksikan pertandingan menghadapi Portugal.

Baca juga: Federasi tunjuk Mancini jadi pelatih Italia
 

Pewarta: Atman Ahdiat
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar