counter

Praktisi kecerdasan buatan berpeluang mengajar di universitas

Praktisi kecerdasan buatan berpeluang mengajar di universitas

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir saat menjajal sepeda yang saat ini bisa disewa melalui aplikasi Bukalapak, BukaBike di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jumat (1/2/2019) (ANTARA FOTO JABAR/RAISAN AL FARISI)

Bandung (ANTARA News) - Seiring berkembangnya teknologi, pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) perlahan menyusupi berbagai bidang kehidupan dan menjadi kebutuhan. 

Mengingat adanya peluang terserap industri-industri berbasis teknologi yang kini bermunculan, AI menjadi bidang pengetahuan yang diajarkan di tingkat universitas, salah satunya di Institut Teknologi Bandung (ITB). 

Tak melulu dari para pengajar di universitas, para praktisi AI bahkan berpeluang menelurkan ilmu mereka pada mahasiswa, kata Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, di Bandung, Jumat. 

Dia tak menampik jika salah satu syarat seseorang bisa mengajar di kampus ialah sudah mendapatkan gelar master di bidang ilmu yang dia tekuni. Namun, bukan berarti tak ada peluang bagi para praktisi yang belum menempuh pendidikan magister mengajar di universitas.

"Bisa menjadi dosen tamu, menguatkan (pemahaman) mahasiwa mengenai kondisi di lapangan. Kami tekankan pada sains dan teknologi. Karena sifatnya lebih aplikatif dan mendekat pada industri yang lebih sesuai," kata dia. 

Baca juga: Mengenal BukaBike, sepeda gratis di ITB

Nasir mencontohkan, Politeknik Maritim Negeri Indonesia di Semarang yang beberapa pengajarnya adalah praktisi bidang nautica hingga teknik. 

"Contohnya kami punya Politeknik Maritim di Semarang. Dosennya yang S2 hanya 22 dari 28 orang, ada dosen ada yang D4 dan D3 tetapi punya pengalaman seorang nautica, teknika dan nakhoda kapal. Pengalaman ada yang 10 tahun, 15 tahun. Dia punya sertifikat kompetensi. Lulusan 100 persen diserap industri," papar dia. 

"Untuk AI, jangan-jangan mereka punya keahlian luar biasa para praktisi ini," imbuh Nasir. 

Dalam kesempatan itu, alumni ITB yang juga Founder & CEO Bukalapak, Achmad Zaky mengatakan AI sudah menjadi bagian mata kuliah di kampusnya, walau sifatnya pengantar. 

Dia berharap nantinya bidang pengetahuan ini bisa menjadi mata kuliah di universitas, mengingat urgensi kebutuhannya untuk dunia industri. 

"Di zaman saya ada mata kuliah AI, tetapi memang hanya pengantar. Memang sudah arahan pak presiden membuka jurusan AI, jadinya fokus. S1. Sekarang mata kuliah, berharapnya bisa padat," kata dia. 

Baca juga: ITB-Bukalapak resmikan laboratorium riset berbasis AI dan "cloud computing"

 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar