Penelantaran hewan peliharaan banyak disebabkan faktor ekonomi

Penelantaran hewan peliharaan banyak disebabkan faktor ekonomi

Ilustrasi kucing (Pixabay)

Paling hanya sekitar 10 persen hewan-hewan yang berada di penampungan karena disiksa, selebihnya hewan-hewan tersebut ditelantarkan begitu saja,
Jakarta (ANTARA News) - Penelantaran hewan peliharaan banyak disebabkan faktor ekonomi, kata pegiat hak-hak hewan Susana Somali yang juga pemilik tempat penampungan hewan liar "Pejaten Animal Shelter".

"Paling hanya sekitar 10 persen hewan-hewan yang berada di penampungan karena disiksa, selebihnya hewan-hewan tersebut ditelantarkan begitu saja," kata Susana di Jakarta, Sabtu.

Masalah ekonomi, perceraian dan komplain dari tetangga membuat para pemelihara hewan membuang peliharaannya.

"Anjing biasanya dikomplain karena berisik, sementara kucing sering dikomplain karena suka buang air sembarangan dan kadang-kadang ada yang mau mencuri makanan," kata dia.

Belum lagi menurut dia, lahan kota yang semakin sempit, juga membuat manusia semakin tidak bersahabat dengan hewan-hewan tersebut.

"Dulu halaman orang luas-luas jadi hewan bisa main di pekarangan, sekarang lahan sempit sekali, hewan-hewan yang berkeliaran akhirnya banyak disiksa karena mereka dianggap mengganggu," kata dia.

Untuk itu menurut dia perlu adanya edukasi terkait hak-hak hewan bagi masyarakat. Edukasi tersebut perlu ada ditataran keluarga hingga diterapkan di dalam kurikulum sekolah.

"Kita lihat banyak anak-anak sering memasang karet di leher kucing, itu karena mereka tidak pernah diajari bagaimana menyayangi makhluk hidup lain," kata dia.

Saat ini di Pejaten Animal Shelter telah menampung sekitar 1.000 hewan terlantar seperti anjing dan kucing.

Untuk mengurus hewan-hewan tersebut dia menggunakan dana sendiri dan membuka donasi bagi masyarakat yang ingin membantu.
Baca juga: Istana kerja sama dengan IPB rawat satwa
Baca juga: Hewan peliharaan ikut berlenggak-lenggok di Jember Fashion Carnaval

 

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mengurai rasa bahagia bersama satwa

Komentar