counter

Debat Capres

Masalah impor pangan diperkirakan bakal "keras" pada debat capres

Masalah impor pangan diperkirakan bakal "keras" pada debat capres

Illustrasi: Jagung sebagai salah satu komoditas yang masih diimpor. Petani memanen jagung di desa Tegowanuh, Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Ada begitu banyak persoalan di dalamnya bukan semata soal impornya tapi misalnya terkait naik turunnya harga komoditas yang menyebabkan inflasi
Jakarta (ANTARA News) - Masalah impor pangan diperkirakan akan menjadi bahan perdebatan yang keras dalam debat calon presiden (capres) putaran kedua yang akan digelar pada 17 Februari 2019.

Peneliti di Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Bogor Kementerian Pertanian Destika Cahyana di Jakarta, Selasa, memperkirakan isu impor pangan akan menjadi materi debat kusir yang menarik dalam ajang debat capres.

"Ada begitu banyak persoalan di dalamnya bukan semata soal impornya tapi misalnya terkait naik turunnya harga komoditas yang menyebabkan inflasi hingga adanya mafia kartel pangan," katanya.

Di samping isu tersebut, ia juga memperkirakan isu kerusakan lingkungan akibat perkebunan sawit juga akan mengemuka.

Sementara isu kelangkaan premium atau BBM bersubsidi serta kualitas infrastruktur menjadi persoalan lain yang juga menarik untuk diperdebatkan antara kedua pasangan capres dan cawapres.

"Masyarakat harus cerdas bahwa apapun yang ditawarkan kedua calon hanyalah sekadar big goal, pelaksananya adalah mesin birokrasi dengan sistemnya sehingga upaya calon untuk menggerakkan birokrasi harus menjadi perhatian publik," kata Master Earth Science dari Chiba University, Jepang itu.

Ia menilai debat capres putaran kedua idealnya dapat mencegah polemik keriuhan akibat para kandidat membawa catatan, sehingga di awal debat moderator atau Ketua KPU mesti tegas menyampaikan aturan debat tentang boleh atau tidaknya membawa catatan. 

"Argumentasi pada debat idealnya mampu menterjemahkan visi dan misi masing-masing calon sehingga masyarakat dapat memahami apa yang akan dilakukan setiap pasangan serta dampak positif maupun negatif," kata Mahasiswa S3 di Program Studi Ilmu Tanah IPB.

Ia berpendapat, bagi petahana tentu akan lebih mudah menjelaskan program apa yang telah dilakukan, tetapi tentu kekurangan capaian program dapat menjadi sasaran tembak bagi rivalnya. 

"Calon penantang idealnya mampu memberikan alternatif program dari petahana sehingga bukan sekadar menyerang tanpa solusi yang jelas," katanya.

Tema debat putaran kedua sendiri yakni terkait energi dan pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta infrastuktur.

Baca juga: Presidium Peternak: Beras busuk tidak bisa untuk pakan ayam

Baca juga: Pengamat ingatkan capres agar perkuat nelayan percepat poros maritim

 

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar