counter

Psikolog sebut pendidikan Indonesia bukan tanggung jawab pemerintah saja

Psikolog sebut pendidikan Indonesia bukan tanggung jawab pemerintah saja

Psikolog dan Pemerhati Pendidikan, Najelaa Shihab saat jadi pembicara pada diskusi program `Ubah Dengan Suara`oleh PT Johnson & Johnson di Jakarta, Rabu (20/02/2019) (ANTARA/ Agus Saeful Iman)

Jakarta (ANTARA News) - Psikolog dan Pemerhati Pendidikan, Najelaa Shihab mengatakan kemajuan pendidikan di Indonesia bukan menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tetapi butuh keterlibatan semua pihak termasuk perusahaan.

"Saya menyampaikan apresiasi kepada PT Johnson & Johnson atas program `Ubah Dengan Suara` untuk membantu meningkatkan kompetensi mengajar guru muda di Indonesia untuk meningkatkan kualitas pendidikan," kata Najelaa yang hadir sebagai pembicara dalam acara itu yang diselenggarakan PT Johnson & Johnson di Jakarta Pusat, Rabu.

Najelaa dalam kesempatan itu menjelaskan bahwa guru harus meningkatkan kompetensi sesuai kebutuhan di era milenial dan industri 4.0 yang mendidik murid berbeda dengan era sebelumnya.

Program ini diselenggarakan dari tanggal 18 Februari sampai dengan 17 Maret 2019 yang mengajak masyarakat berpartisipasi untuk Indonesia Mengajar sebagai upaya membantu meningkatkan kompetensi pengajar muda Indonesia.

Najelaa Shihab, memberikan apresiasi pada PT. Johnson & Johnson yang telah mendukung pemerintah dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

"Tantangan di era milenial, murid tidak bisa lepas dari gawai dan literasi yang masih kurang, guru harus terus beradaptasi agar pendidikan bisa menjadi jembatan perubahan untuk merubah seseorang bahkan mengubah bangsa," ujar Najelaa.

Najelaa juga menjelaskan, bahwa guru yang kompeten adalah guru yang adaptif dan cara menaikkan kompetensi guru adalah bantuan dari semua golongan, seperti pemerintah, orang tua, koorporasi, termasuk selebritis.

Di tempat yang sama, Maudy Ayunda, selebriti yang menjadi duta kampanye "Ubah Dengan Suara", menjelaskan bahwa, budaya belajar yang baik dimulai dari sekolah dan pengajar yang baik.

"Sekolah dan pengajar yang baik akan membawa sikap belajar yang baik juga dan dapat merubah paradigma anak-anak dari yang sebelumnya biasa saja sama belajar, bisa jadi cinta sama belajar," kata Maudy.

Maudy juga menjelaskan bahwa ketika anak-anak sudah memiliki rasa cinta akan belajar, mereka akan membaca, mencari tahu, belajar sendiri dan ada kecintaan belajar.

Baca juga: Maudy ajak pemuda berkontribusi bagi pendidikan Indonesia
Baca juga: "Mismatch" masih jadi permasalahan pendidikan


 

Pewarta: Agus Saeful Iman dan Ganet Dirgantara
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pendidikan kesetaraan bagi penghuni Lapas

Komentar