counter

Debat cawapres menurut Garin Nugroho

Debat cawapres menurut Garin Nugroho

Garin Nugroho dalam sesi "Crossout Asia" Festival Film Tokyo 2018 (Tokyo International Film Festival/TIFF), Jumat (26/10). (ANTARA News/Alviansyah P)

Jakarta (ANTARA) - Garin Nugroho menganggap debat cawapres layaknya acara opera sabun karena penuh dengan drama saling serang di media sosial.

Bagi sutradara "Kucumbu Tubuh Indahku" ini mengatakan para pasangan calon presiden dan wakil presiden hanya saling menyerang dan tidak mengutarakan konsep kebangsaan yang ditawarkan.

"Dunia viral dan mellowdrama ini sudah seperti kualitas opera sabun, makin merosot, pararel. Dua-duanya mencari followers, mencari rating tinggi. Untuk mendapat rating tinggi kalau yang berkualitas enggak mungkin, maka seluruhnya menjadi vulgar, saling serang, saling hitam-putih," kata Garin kepada Antara di Jakarta, Sabtu (16/3).

"Udah enggak ada gunanya, ini pemilu paling enggak ada gunanya. Bener, ini pemilu yang paling merosot peradabannya, merosot institusinya, merosot kepemimpinannya. Dua calon presiden hanya mengambil lagi kata-katanya untuk saling mengejek, saling menyerang kayak anak kecil," lanjutnya.

Garin juga menilai bahwa calon wakil presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno digunakan hanya untuk mengejar dua target yakni masyarakat agamais dan kaum milenial.

"Partai lama, partai baru semua memalukan. Semua mencari dukungan agama dan milenial bukan dukungan atas dasar konsep, hanya dua itu yang dikejar," kata sutradara "Soegija" itu.

Garin menambahkan, "Representasi dua calon wakil presiden menunjukkan dua golongan itu. Dan semua menjadi vulgar karena butuh followers, kualitas mereka turun dan lupa konsep, kualitas itu lupa untuk pendidikan kewarganegaraan itu. Enggak mutu!"


Baca juga: Keunggulan menyaksikan film di bioskop ketimbang platform digital

Baca juga: Cara Garin Nugroho manfaatkan gawai, rekam ide hingga tulis naskah

Baca juga: Film "Kucumbu Tubuh Indahku" Garin Nugroho segera tayang

Baca juga: Kiat modal utama untuk sutradara pemula dari Garin Nugroho

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar