counter

Faisal Basri sebut konsep pembangunan ekonomi capres tak meyakinkan

Faisal Basri sebut konsep pembangunan ekonomi capres tak meyakinkan

Pakar Ekonomi Faisal Basri dalam diskusi bertajuk "Sharing with the Master" dengan tema "Meneropong Masa Depan Makro Ekonomi Nasional dan Peran Strategis Wakaf dalam Pengentasan Kemiskinan" yang diadakan Global Wakaf-Aksi Cepat Tanggap (WG-ACT) di Jakarta, Kamis (21/2/2019). (ANTARA/Dewanto Samodro)

Perekonomian Indonesia memang tumbuh, tetapi lelet...
Jakarta (ANTARA) - Pakar ekonomi Faisal Basri mengatakan dua calon presiden (capres) yang bersaing dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 tidak ada yang meyakinkan dari sisi pembangunan ekonomi, sehingga perlu peran dari masyarakat sipil agar tidak bergantung pada pemimpin.

"Perekonomian Indonesia memang tumbuh, tetapi lelet. Angka pengangguran turun, tapi definisi pengangguran tidak jelas," kata Faisal dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis.

Faisal mengatakan pendapatan per kapita Indonesia saat ini di angka 3.500 dolar Amerika Serikat (AS). Bila pertumbuhan setiap tahun hanya lima persen hingga enam persen, maka pada 2030 hanya akan menjadi 8.500 dolar AS.

"Angka itu masih akan jauh dari negara lain. Kalau seperti ini terus, masa depan kita tua nanti akan sengsara," ujarnya.

Faisal menyoroti kebijakan pemberian sertifikat tanah kepada rakyat. Menurut dia, rakyat diberi tanah satu hektare, tetapi kemudian bingung untuk mengembangkannya secara produktif.

Seharusnya, program pemberian sertifikat tanah itu melibatkan masyarakat sipil, seperti Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang selama ini bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi.

"Jadi tanah tetap milik rakyat, tapi ACT terlibat dalam pengelolaannya agar lebih produktif sehingga meningkatkan kesejahteraan rakyat," tuturnya.

Faisal mengatakan Indonesia merdeka hampir bersamaan dengan beberapa negara lain seperti Malaysia, Filipina, dan Korea. Namun, negara-negara tersebut telah berhasil melampaui perekonomian Indonesia.

"Korea Selatan terus meroket. Pendapatan per kapita Filipina juga sudah menyusul kita. China saat 1997, lebih menderita daripada Indonesia, tetapi saat ini mereka sudah menyusul kita," katanya.

ACT bekerja sama dengan Global Wakaf mengadakan diskusi bertajuk "Sharing with the Master" bertema "Meneropong Masa Depan Makro Ekonomi Nasional dan Peran Strategis Wakaf dalam Pengentasan Kemiskinan".

Diskusi tersebut menghadirkan Faisal Basri dengan dipandu praktisi komunikasi Zaim Uchrowi sebagai moderator.

Baca juga: Menperin: IKM jadi tulang punggung ekonomi nasional, ini buktinya

Baca juga: Menperin ingatkan IKM manfaatkan segera teknologi digital




 

Pewarta: Dewanto Samodro
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Faisal Basri : Gross split turunkan investasi Migas

Komentar