counter

Metropolitan

Franky Welirang ingatkan pentingnya konservasi bakau di Kapuk

Franky Welirang ingatkan pentingnya konservasi bakau di Kapuk

Pengunjung berjalan di antara pepohonan mangrove di Hutan Mangrove Ecomarine Muara Angke, Jakarta, Rabu (20/3/2019). (ANTARA/Sugiarto P)

Jakarta (ANTARA) - Member of Board of Trustee Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA), Franky Welirang mengingatkan pentingnya melakukan konservasi hutan bakau di Angke Kapuk Jakarta Utara.

"Seperti diketahui properti di kawasan Ancol sampai ke Kapuk itu terus berkembang untuk itu harus ada yang bertanggungjawab mengurus hutan mangrove (bakau) di dalamnya," kata Franky dalam gelaran Tough Leader Forum di Jakarta, Rabu.

Acara yang dikemas melalui diskusi ini membahas pentingnya keterlibatan BUMN dan swasta mengingat kawasan hutan bakau di Angke Kapuk ini merupakan benteng terakhir hutan di Pemprov DKI, setelah Serengseng.

Franky menjelaskan bakau merupakan ekosistem dari berbagai jenis hewan, namun kondisi hutan bakau di Angke Kapuk saat ini sangat memprihatinkan dengan banyaknya sampah-sampah rumah tangga.

Franky juga mengingatkan tantangan yang dihadapi untuk mengelola hutan bakau di Kapuk tidaklah mudah karena pemerintah daerah setempat jelas tidak mendapatkan pemasukan apapun dari hutan mangrove ini.

"Saya kira untuk tahap awal konservasi bakau ini pemerintah segera membentuk perangkat hukumnya terlebih dahulu, jangan sampai setelah mendapatkan hak pengelolaan sekian tahun tidak mengetahui siapa yang akan mengurusnya.

Sedangkan menurut Prof. Dr. Ir. Dietriech G. Bengen, DEA, Guru Besar Ilmu Ekologi Pesisir dan Laut, Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan, pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya di pesisir untuk ikut terlibat dalam pemeliharaan hutan bakau.

"Kalau ingin pengelolaan hutan bakau dapat berkesinambungan maka penting untuk melibatkan masyarakat di dalamnya," ujar dia.

Kemudian hal penting lainnya adalah membuat perangkat hukum agar hutan bakau tersebut dapat tumbuh dan berkembang, terawat serta berkelanjutan.

Dietriech mengatakan pentingnya memikirkan mengenai pendanaannya sebagai contoh melihatkan Pemprov DKI untuk mengucurkan dana APBD atau bisa juga mencari sumber pendapatan bukan dari APBD melainkan melalui kerja sama dengan sektor usaha.

Sedangkan Benjamin dari BJ Ecotourism Mangrove-Probolinggo menilai pentingnya peran pemerintah daerah untuk mendukung pengelolaan hutan bakau.

Benjamin mengaku bukan hal mudah untuk mengelola mangrove karena tidak adanya bank yang bersedia untuk membiayai, serta pemerintah daerah setempat tidak menyetujui penggunaan alat berat.

Namun dengan memberdayakan masyarakat setempat akhirnya kawasan tersebut kini menjadi eco wisata.

Forum grup diskusi ini diselenggarakan oleh The Nature Conservancy Indonesia yang memang bergerak di bidang pelestarian lingkungan.

Langgar Permen, kepiting bakau dilepasliarkan

Pewarta: Ganet Dirgantara
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar