counter

Artikel

Kisah pelancong melihat Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan

Oleh Abdu Faisal

Kisah pelancong melihat Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan

Pelancong lokal asal Jakarta, Dian Pertiwi atau akrab disapa Wiwiek, berfoto di depan Zona C Perkampungan budaya Betawi pada Minggu (16/6/2019). Zona C merupakan zona baru yang akan mulai dibuka untuk umum pada tahun 2020. (ANTARAnews/ Abdu Faisal)

Tadi naik Transjakarta mini jurusan Blok M - Cipendak, ongkosnya cuma Rp3.500. Tadi bilang sama keneknya, mau turun di Kampung Betawi Situ Babakan, begitu
Jakarta (ANTARA) - Akhir pekan kedua setelah Lebaran dimanfaatkan Dian Pertiwi, warga Jakarta keturunan Sumatera Barat dan Sumatera Selatan, melancong ke salah satu objek wisata budaya di Jakarta bernama Perkampungan Budaya Betawi.

"Tadi naik Transjakarta mini jurusan Blok M - Cipendak, ongkosnya cuma Rp3.500. Tadi bilang sama keneknya, mau turun di Kampung Betawi Situ Babakan, begitu," kata Wiwiek, sapaan Dian Pertiwi.

Perkampungan Budaya Betawi adalah suatu kawasan di Jagakarsa, Jakarta Selatan tepatnya di area Setu Babakan yang buka dari jam 07.00 WIB sampai jam 18.00 WIB.

Perkampungan ini terkenal dengan komunitas Betawi yang ditumbuh kembangkan oleh budaya bercirikan ke-Betawian meliputi kesenian, adat istiadat, folklor, sastra, kuliner, pakaian, serta arsitektur.

Begitu setidaknya yang tertera pada pamflet berisi profil perkampungan budaya betawi yang dipegang Wiwiek. Wiwiek sebenarnya hanya tahu sedikit informasi soal perkampungan ini lewat sosial media.

Berjalan kaki, Wiwiek tak sedikit pun lelah menyusuri satu persatu tempat yang tertera di pamflet yang dibagi-bagikan gratis di lobi gedung utama perkampungan budaya Betawi di Zona A. Padahal usia Wiwiek kini sudah kepala lima.

Bayangkan, luasnya area perkampungan sekitar 289 hektare yang dibagi menjadi empat zona yakni zona A, zona B (pengembangan), zona C (pulau buatan), dan zona embrio itu dijelajahinya satu persatu.

Ia sangat menyayangkan belum adanya fasilitas kendaraan umum yang dapat dipergunakan untuk berkeliling lokasi.

"Tadinya saya lihat ada semacam odong-odong gitu terus saya naik, tidak tahunya itu rombongan arisan. Karena malu saya pun turun," ujarnya.

Zona A sebagai zona utama perkampungan terdiri dari area gedung utama, museum tekstil dan arsitektur betawi, serta gelanggang terbuka.

Di Zona A tersebut, banyak sekali berjejer pengunjung yang tampak antusias menonton pagelaran tari topeng yang ditampilkan sanggar tari topeng Setia Warga.

Usut punya usut, pengunjung katanya bisa melihat beragam kesenian budaya Betawi yang diagendakan rutin pada akhir pekan (Sabtu-Minggu) di setiap bulannya.

"Jadi bukan cuma Tari Topeng saja ya?" tanya Wiwiek pada Roni, salah seorang staf Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi (UPK PBB) yang ditemuinya di area gedung utama.

"Selain topeng betawi, ada juga penampilan gambang kromong, Lenong, dan Komedi Betawi yang kita tampilkan dari jam 14.00 WIB sampai tutup pengunjung jam 18.00 WIB," jawab Roni.

Menurut Roni, setiap minggunya, sanggar kesenian Betawi yang ditampilkan berganti-gantian untuk memberi kesempatan "unjuk gigi" pada setiap sanggar di seluruh wilayah provinsi DKI Jakarta.

Roni mengatakan kalau kebijakan tersebut karena pengelolaan perkampungan budaya betawi berada di bawah instruksi pemerintah provinsi DKI Jakarta, bukan hanya Kota Administrasi Jakarta Selatan saja.

Pengelolaan perkampungan budaya Betawi sendiri merupakan tanggung jawab UPK PBB sejak Januari 2015, yang artinya baru berjalan selama empat tahun.

"Dulu pengelola yang lama terdiri dari 14 orang saja, mereka adalah tokoh Betawi yang diangkat Gubernur Sutiyoso sebagai penanggung jawab kawasan perkampungan budaya betawi hingga tahun 2014," ujar Roni.

Roni menambahkan kalau keempat belas orang tersebut sampai sekarang masih aktif sebagai dewan pengawas dengan nama baru yakni Forum Pengkajian dan Pengembangan Perkampungan Budaya Betawi, pemimpinnya seorang purnawirawan TNI bernama Abdul Syukur.

"Selain zona A, ada juga zona embrio meliputi wilayah perkampungan betawi, Setu Babakan, dan Setu Mangga Bolong," ujar Roni.

Di sana bisa ditemui ragam aktivitas keseharian masyarakat Betawi seperti berdagang, bertani, menjala dan memancing.

Kami pun sempat bertemu dengan salah seorang pemancing setempat bernama Saudi yang tengah asik memancing di Setu Babakan.

Menurut Saudi, memancing di Setu Babakan sangat ekonomis karena tidak dipungut biaya sepeserpun.

"Ya, ikannya gratis, mau dibawa pulang juga boleh. Kita cuma modal umpan dan pancingannya saja," ujar Saudi.

Tampak Saudi sumringah karena hari itu ia sudah menangkap seekor lele. Lele itu ia masukkan ke dalam baskom.

Selain pemancing, Wiwiek juga sempat mampir ke warung pedagang sekitar Setu Babakan dan mencicipi jajanan khas Betawi, Kue Dongal, yang menurutnya rasanya seperti jajanan "gulo gulo tareh" di Sumatera Barat.

Selain Kue Dongal, ada juga bir pletok, kue sagon, dan lain-lainnya. Kisaran harga jajanan tersebut antara Rp15.000 sampai Rp35.000.

Selain wisata budaya dan wisata kuliner, pemerintah provinsi Jakarta tampaknya juga akan mengembangkan potensi wisata lainnya untuk perkampungan budaya betawi Setu Babakan dengan dibangunnya Zona B (pengembangan) dan Zona C (pulau buatan).

Wilayah yang sejuk udaranya serta masih asri ini ternyata menyimpan banyak potensi wisata untuk ditumbuh kembangkan.

Idealnya, para pelancong mengincar tempat rekreasi keindahan alam, murah, atau pertunjukannya. Namun, Perkampungan budaya Betawi bagai paket lengkap sebuah tempat pariwisata.

Karena selain alamnya yang indah juga gratis biaya masuknya, tempat ini juga menawarkan banyak kebudayaan asli Jakarta yang sayang untuk dilewatkan.

Oleh Abdu Faisal
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mengenal ragam biota laut di Jakarta Aquarium

Komentar