Kominfo dorong peran aktif komunitas terapkan PHBS pencegahan stunting

Kominfo dorong peran aktif komunitas terapkan PHBS pencegahan stunting

Sosialisasi GenBest (Generasi Bersih dan Sehat) Dalam Rangka Penurunan Prevalensi Stunting di Tembi Rumah Budaya Kabupaten Bantul, DIY. (Foto istimewa)

"Peran aktif keluarga dan komunitas untuk mengubah perilaku dan menerapkan gaya hidup bersih dan sehat di lingkungannya menjadi kunci utama pencegahan stunting," kata Marroli
Yogyakarta (ANTARA) - Kepala Subdirektorat Informasi dan Komunikasi Kesehatan, Kementerian Komunikasi dan Informasi Marroli J. Indarto mendorong peran aktif para komunitas untuk menerapkan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) di lingkungannya untuk pencegahan stunting atau kondisi tinggi badan lebih pendek dari orang seusianya.

"Peran aktif keluarga dan komunitas untuk mengubah perilaku dan menerapkan gaya hidup bersih dan sehat di lingkungannya menjadi kunci utama pencegahan stunting," kata Marroli disela Sosialisasi GenBest Dalam Rangka Penurunan Prevalensi Stunting di Tembi Rumah Budaya Kabupaten Bantul, DIY, Kamis (4/7).

GenBest (Generasi Bersih dan Sehat) merupakan inisiasi Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo untuk menciptakan generasi Indonesia bebas stunting, karena itu GenBest mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.

"Untuk itu, Kementerian Kominfo terus berkomitmen bahwa penyediaan informasi terkait isu stunting ini haruslah mudah diakses dan dipahami masyarakat, salah satunya melalui forum GenBest ini," katanya.

Menurut dia, pemerintah selama ini telah bekerja keras menurunkan tingkat prevalensi stunting dari sebanyak 37,2 persen (Riskedas 2013) menjadi 30,8 persen (Riskedas 2018). Ini merupakan bukti bahwa pemerintah serius tangani stunting.

Baca juga: Kemenkominfo gandeng milenial turunkan prevalensi kekerdilan

Ia mengatakan, pemerintah melakukan intervensi dalam dua skema, pertama intervensi spesifik atau gizi dengan memberikan makanan tambahan untuk ibu hamil dan anak, suplemen gizi, pemberian tablet tambah darah, serta konsultasi.

Kemudian yang kedua melakukan intervensi sensitif atau nongizi seperti penyediaan sanitasi dan air yang bersih, lumbung pangan, alokasi dana desa, edukasi dan sosialisasi.

"Pemeritah sangat serius untuk menurunkan tingkat prevalensi stunting melalui program kerja di berbagai aspek yaitu kesehatan maupun non-kesehatan. Bahkan anggaran yang dialokasikan juga besar untuk menanggulangi isu ini," katanya.

"Namun, beragam program tidak akan optimal dan berdampak, apabila tidak disertai pola pikir sehat. Untuk itu, masyarakat harus turut serta berkontribusi dengan mengubah perilaku untuk hidup bersih dan sehat," katanya.

Marroli mengatakan, forum GenBest yang juga disosialisasikan ke seluruh Indonesia ini juga diselenggarakan sebagai upaya pencegahan munculnya sumber daya manusia (SDM) yang tidak kompeten ketika menghadapi bonus demografi pada tahun 2030.

"Tahun itu diperkirakan 68 persen penyangga ekonomi Indonesia adalah usia produktif yang lahir saat ini. Pemerintah tidak ingin SDM ini mundur sebelum pertandingan global karena kalah kompetensi akibat stunting," katanya.

Baca juga: Taspen Jambi gelar sosialisasi pencegahan stunting bagi kader Posyandu

Pewarta: Hery Sidik
Editor: Ridwan Chaidir
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar