counter

Memperkuat komunitas musik indie lewat bisnis pakaian

Memperkuat komunitas musik indie lewat bisnis pakaian

Adilta Ginting, pemilik Euphoria RockStore di Medan, Sumatera Utara. (ANTARANews/ Nanien Yuniar)

Medan (ANTARA) - Toko Euphoria RockStore di Medan, Sumatera Utara, tampak seperti distro (distribution outlet) pada umumnya, tapi isinya didominasi baju-bajui warna monokrom dengan gambar-gambar sangar seperti tengkorak seram.

Toko yang sudah berdiri sejak 2011 ini bukan sekadar bisnis pakaian, melainkan tempat memperkuat komunitas musik indie di kota Medan, khususnya musik-musik "keras" seperti metal hardcore dan punk.

Dimulai dari kecintaannya terhadap genre musik tersebut, Adilta Ginting mendirikan distro yang menjual merchandise band-band indie di Medan.

Meski pasarnya terbatas, tapi pelaku pasarnya tidak banyak. Itulah mengapa Adil menganggap bisnis tersebut menjanjikan.

Salah satu faktor yang mendorongnya menggeluti bisnis ini adalah ketika melihat kualitas merchandise band indie yang diproduksi oleh grup musik itu sendiri. Kualitasnya bervariasi, ada yang bagus, sisanya biasa saja.

"Selama delapan tahun, kami sudah rilis sekitar 50-an band di Medan," ujar Adil di tokonya di Medan, Sumatera Utara.

Produknya bervariasi, mulai dari kaos hingga topi. Tapi misi utamanya bukan cuma soal berjualan, melainkan mengikis stigma negatif musik "keras".

Meski identik dengan gambar-gambar sangar nan seram, Adil melarang adanya simbol dan kalimat negatif di produk-produknya.

"Saya menghindari simbol seperti gambar ganja, misalnya."
Toko Euphoria RockStore di Medan, Sumatera Utara. (ANTARANews/ Nanien Yuniar)


Usaha menyebarkan citra positif mengenai musik tersebut juga dibuat lewat acara penggalangan dana untuk korban bencana alam seperti di Sinabung dan Lombok.

Ada kalanya Euphoria yang lebih dulu berinisiatif mengajak sebuah band kerjasama, begitu pula sebaliknya.

Grup musik yang mau pernak-perniknya dibuat oleh toko disyaratkan untuk memproduksi sebuah karya berupa lagu, entah itu dalam bentuk album penuh atau album EP.

"Kami lihat ada band lagi promosi, lalu menawarkan diri untuk merilis merchandise. Atau kami buka forum (memutuskan) band apa yang (merchandise-nya) mau dirilis."

Satu hal yang tak kalah penting, band yang mereka dukung harus jauh dari kontroversi alias punya nama baik.

Upaya mendukung ekosistem musik indie di Medan lebih dari sekadar membuatkan merchandise dengan keuntungan berupa royalti untuk band, atau membantu sebagian pendanaan dalam mengeluarkan karya.

Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara itu juga mengadakan acara-acara musik skala kecil hingga lokakarya di tokonya, yang terbaru adalah diskusi mengenai Tolak RUU Permusikan.

Euphoria Rockstore akan berpartisipasi sebagai pengisi area marketplace di gelaran Magnumotion Slank - Mantap Melangkah Tour 2019 di Medan pada 18 Juli 2019.


Baca juga: "Based on True Story: Pure Saturday" angkat fenomena musik indie

Baca juga: Iwan Fals puji kualitas musisi indie

Baca juga: "Bandung Kecil" di Tebet Jakarta Selatan

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar