counter

BNPB ekspedisi Desa Tangguh Bencana pesisir Jawa jalur evakuasi

BNPB ekspedisi Desa Tangguh Bencana pesisir Jawa jalur evakuasi

Direktur Pemberdayaan Masyarakat, BNPB, Lilik Kurniawan. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Potensi terjadinya bencana tsunami di pesisir selatan Jawa yang ditinggali oleh lebih dari 600 ribu jiwa di 584 desa di pesisir Jawa.
Gunung Kidul (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan ekspedisi Desa Tangguh Bencana 2019 di daerah selatan pulau Jawa yang berada di kawasan pesisir untuk mengetahui kesiapan jalur evakuasi.

Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB Lilik Kurniawan di Kulon Progo, Rabu (24/70, mengatakan potensi terjadinya bencana tsunami di pesisir selatan Jawa yang ditinggali oleh lebih dari 600 ribu jiwa di 584 desa di pesisir Jawa.

"Kunjungan ini untuk mencari masukan untuk membuat perencanaan 3 tahun ke depan. Salah satu yang kami soroti, yakni pembuatan jalur evakuasi bagi masyarakat terdampak," kata Lilik saat melakukan kunjungan di Pantai Sadeng, Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul, DIY.

Selama ekspedisi akan dilakukan penilaian ketangguhan masing-masing desa dalam menghadapi bencana tsunami yang tidak diketahui kapan terjadinya. Menurut dia, hal yang paling krusial adalah masalah infrastruktur.

Pembangunan infrastruktur menjadi tanggung jawab pemerintah daerah masing-masing. Masyarakat bisa belajar sendiri mengenai evakuasi karena mudah dan tidak memerlukan biaya, tetapi untuk pembangunan infrastrukur tugas pemerintah.

Baca juga: BPBD Tulungagung imbau warga tidak "termakan" hoaks tsunami

Untuk wilayah DIY sendiri, yang memiliki infrastruktur yang memadai hanya berada di Pantai Kulwaru, Bantul.

"Jadi tempat-tempat yang rawan tsunami itu kita masih temukan jalannya itu masih belum bagus dan kita, mereka sudah menentukan sendiri tempat evakuasinya tetapi akses menuju ke tempat itu yang masuk di atas bukit itu belum tertata dengan baik bahkan kalau dia lewat sungai, jembatannya masih belum ada, ini kan riskan bagi masyarakat," kata Lilik.

Ia mengimbau desa-desa yang memiliki potensi terjadinya tsunami agar melakukan simulasi penanganan terjadinya bencana tsunami, sehingga kesiapsiagaan selalu terlatih pada masyarakat.

Mengingat daerah selatan Jawa ini selama kurun waktu 25 tahun terakhir ada 3 kejadian tsunami pertama pada tahun 1994 di daerah Banyuwangi, lalu 2006 di Pangandaran, dan 2018 ada di Selat Sunda.

BNPB mencatat terdapat 5.744 desa yang berpotensi terdampak bencana tsunami di Indonesia. Dari total jumlah itu, 584 di antaranya berada di selatan Jawa.

"Paling tidak satu tahun sekali desa-desa melakukan simulasi," katanya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Daerah (BPBD) DIY Biwara Yuswantana mengatakan pihaknya perlu meningkatkan infrastruktur evakuasi tsunami yang ada. Salah satunya dengan membentuk destana.

Ada 39 desa, 12 Kecamatan, di Kabupaten Gunung Kidul, Bantul, dan Kulon Progo, targetnya semuanya dibentuk destana.

"Sosialisasi terkait kebencanaan juga diberikan dari mulai desa hingga sekolah-sekolah karena setiap tahun murid berganti maka guru yang dilatih dan edukasi.

Baca juga: Menteri PUPR: Infrastruktur yang dibangun harus tangguh bencana
Baca juga: BNPB umumkan strategi penanggulangan bencana kekeringan

Pewarta: Sutarmi
Editor: Ridwan Chaidir
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Melatih penyandang disabilitas intelektual tangguh dalam bencana

Komentar