counter

Pakar: Susu formula bukan solusi atasi stunting

Pakar: Susu formula bukan solusi atasi stunting

Kegiatan International Conference On Nutrition and Public Health (ICNPH) yang digelar Departemen Gizi FKM Unhas di Hotel Claro Makassar, Jumat (2/08/2019). (ANTARA/Nur Suhra Wardyah)

Makassar (ANTARA) - Pakar Gizi dan Nutrisi, Prof Soekirman SKM, MPS-ID, Ph.D mengemukakan bahwa pemberian susu formula pada anak-anak bukanlah solusi tepat mengatasi stunting yang tengah menjerat Indonesia terhadap pertumbuhan baik dan sehat bagi generasinya.

"Malah yang merusak penggunaan ASI itu dimulai dari pemberian susu oleh Unisef ke berbagai belahan negara pada tahun 60 an dan menyebabkan para orangtua secara budaya tidak lagi menganggap ASI penting diberikan kepada anaknya," papar Prof Soekirman pada International Conference On Nutrition and Public Health (ICNPH) yang digelar di Makassar, Jumat.

Menurutnya, pemberian susu formula bahkan menjadi salah satu penghambat masyarakat memberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif kepada anaknya. Padahal ASI adalah nutrisi terbaik yang sangat dibutuhkan oleh anak.

Baca juga: ASI nutrisi terbaik penunjang pertumbuhan anak

"Tidak ada nutrisi paling hebat daripada air susu ibu, yang merupakan ciptaan Tuhan yang Maha Sempurna," tandasnya disertai tepuk tangan oleh peserta ICNPH.

Selain itu, susu formula dianggap sebagai tambahan makanan yang memiliki cost lebih dibanding ASI serta tambahan nutrisi dari berbagai jenis makanan lainnya. Bahkan diakui cost paling tidak efektif itu di Ondonesia.

Sementara pengukuran stunting sekaligus evaluasi penanganannya, kata Guru Besar IPB itu bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana, karena bukan tidak mungkin kejadian stunting hanya berkaitan dengan penduduk miskin namun juga ditemui pada keluarga yang berkecukupan (kaya).

Baca juga: Sentra Laktasi : Peran keluarga menentukan dalam keberhasilan menyusui

"Kita tidak bisa melihat hanya status dan ukurannya saja tetapi kesalahan-kesalahan itu harus dilihat. Memenuhi Term of Reference (TOR) pertumbuhan bayi, jika tidak tumbuh maka segera laporkan. Inilah gunanya posyandu yang sudah ada sejak 70 tahun lalu," urainya.

Untuk mengetahui dan mengawasi hadirnya stunting bisa diketahui pengukurannya dari cara sederhana seperti balok SKDN sebagai cara mengetahui status gizi balita serta Kartu Menuju Sehat (KMS) dari kader posyandu.

Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, STP, MS, Ph.D mengemukakan ada dua yang menjadi masalah kesehatan sehingga berakibat pada terjadinya stunting, yakni input gizi kurang dan akibat dari penyakit infeksi.

Baca juga: Dokter: Ibu harus percaya diri agar sukses menyusui

"Penyakit infeksi ini diakibatkan oleh lingkungan yang mengakibatkan cacingan dan diare. Semuanya kembali pada pola asuh, pelayanan kesehatan dan lingkungan yang sangat mempengaruhi," katanya.

Saat ini, Pemerintah Indonesia juga tengah fokus pada giizi remaja sebagai salah satu prioritas nasional, sedangkan untuk evaluasi percepatan penanganan stunting dilakukan dengan berbagai survey di seluruh wilayah Indonesia.

Pewarta: Nur Suhra Wardyah
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar