Harmoko Bukan Hari-Hari Omong Kosong

Harmoko Bukan Hari-Hari Omong Kosong

Jakarta (ANTARA News) - Tokoh nasional yang juga mantan menteri penerangan, Harmoko, sepertinya tahu benar dengan ulah sebagian orang yang menjuluki namanya dengan kepanjangan "Hari-Hari Omong Kosong" sehigga ia perlu mengklarifikasi dan membuktikan bahwa julukan itu tidak tepat. "Kalau urusan soal rakyat, Pak Harmoko ini ngomongnya kok 'hari-hari omong kosong'," kata Harmoko mencoba menirukan anekdot di sebagaian masyarakat seputar nama Harmoko. "Mulai hari ini akan saya ganti menjadi 'hari-hari omong komunikatif', 'hari-hari omong kooperatif', lanjut-lanjutnya saya bicara 'hari-hari ngomong kongret," katanya sambil berseloroh ketika memberikan sambutan dalam Deklarasi Nasional Partai Kerakyatan Nasional (PKN) di Jakarta Sabtu, dimana Harmoko duduk sebagai ketua dewan penasehat di partai baru itu. Di depan pengurus, kader, simpatisan, tamu undangan, dan wartawan, Harmoko berpesan kepada seluruh jajaran PKN untuk memperhatikan dan memperjuangkan kepentingan rakyat nasional sesuai dengan namanya Partai Kerakyatan Nasional. "Partai Kerakyatan Nasioal, ingat saudara membawa nama kerakyatan nasional, apa artinya? Saudara adalah wakil rakyat, jangan sekali-kali merusak hati rakyat, jangan sekali-kali menyepelehkan rakyat," katanya dengan bersemangat. Harmoko yang merasa sering dikatakan sebagai "orang" orde baru mengatakan bahwa dia memang orang orde baru, tetapi juga orde lama, dan juga bagian dari orde reformasi sehingga tidak perlu hal itu dipersoalkan. Menurutnya yang penting adalah meninggalkan yang buruk dan mengambil serta melanjutkan yang baik. Dalam sambutannya Harmoko juga memberikan nasehat bahwa PKN jangan sekali-kali bermusuhan dengan partai lain. "PKN jangan sekali-kali bermusuhan dengan partai-partai politik lain, kenapa karena mereka juga sama-sama berjuang, apakah itu Golkar, PAN, PDIP, apakah itu PPP, apakah itu PAN," kata Harmoko yang pernah menjabat menteri penerangan pada era pemerintahan Soeharto itu. Deklarasi Dalam deklarasi nasional PKN yang digelar di Gedung Djuang, Cikini, Jakarta Pusat, juga dibacakan susunan Dewan Pimpina Pusat (DPP) partai yang dilanjutkan dengan pelantikan pengurus oleh Harmoko. Deklarasi juga diselingi dengan pembacaan Dasa Krida PKN yang antara lain berisi tentang misi-misi, seperti dalam bidang politik, mereka akan memperjuangkan terciptanya dan berfungsinya tatanan kehidupan politik yang konstitusional, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta mengembangkan demokrasi, menegakkan keadilan dan kebenaran berdasarkan hukum. Di bidang ekonomi PKN berjuang mewujudkan peningkatan kesejahteraan rakyat dengan mengembangkan ekonomi kerakyatan berdasarkan Pancasila sehingga mampu mengentaskan kemiskinan dengan memberikan lapangan kerja serta mengurangi pengangguran. PKN memandang perlunya ditegakkan sistem ekonomi nasional berdasarkan asas kerakyatan, keadilan, dan berkesinambungan. Peningkatan usaha kecil menengah dan koperasi menjadi pilar dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan. PKN akan mewujudkan terbentuknya undang-undang yang mendukung kemitraan bagi seluruh pengusaha baik kecil, menengah maupun besar. Pada bidang pertahanan dan keamanan, PKN akan mengusahakan efektifitas TNI dan Kepolisian melalui peraturan perundang-undangan yang realistis dengan cara redefinisi, reposisi, dan restrukturisasi TNI-Polri. Memberdayakan TNI-Polri sebagai pelindung dan pengayom rakyat, menjaga keutuhan wilayah NKRI serta memperjuangkan anggaran yang memadai bagi TNI-Polri. Hadir dalam deklarasi PKN antara lain, Utoyo Oesman, JB Sumarlin, penyanyi Jamal Mirdad, dan beberapa purnawirawan perwira tinggi TNI. (*)

Pewarta: surya
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2008

Komentar