counter

Pameran Wajah Indonesia diharap perkuat identitas ke-Indonesia-an

Pameran Wajah Indonesia diharap perkuat identitas ke-Indonesia-an

Keramik Romantika Politik Humor karya Evy Yonathan dalam pameran Wajah Indonesia di Pekan Kebudayaan Nasional, Istora Senayan, Jakarta. (Antara/Aubrey Fanani)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto berharap pameran seni rupa “Wajah Indonesia” yang digelar di Pekan Kebudayaan Nasional  pada  tanggal 7 sampai 13 Oktober 2019 di Istora Senayan Jakarta mampu memperkuat kembali identitas ke-Indonesia-an.

Sebagai bangsa dengan suku bangsa yang beragam, Indonesia tentunya punya kekayaan dalam banyak identitas kultural. Hal ini yang kemudian coba ditampilkan pada pameran yang melibatkan 41 karya dari 41 perupa yang berasal dari 21 provinsi di Indonesia pada Pekan Kebudayaan Nasional

“Dari ‘wajah-wajah’ yang beragam tersebut, diharapkan muncul adanya sikap saling pengertian dan saling menghargai sehingga dapat terwujud cita-cita menuju Indonesia Bahagia,” ucap Pustanto di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Pameran "Wajah Indonesia" tampilkan ragam ekspresi manusia Indonesia

Ekspresi karya dari masing-masing perupa juga beragam, ini ditujukan agar dapat memberikan inspirasi, memicu sikap kritis, memunculkan motivasi, serta mengembangkan kreativitas, baik dalam bidang seni rupa maupun bidang-bidang lainnya.

“Lewat pameran ini, publik juga diharapkan dapat memaknai kembali identitas Indonesia yang terangkum dalam ‘wajah-wajah Indonesia’ yang ditampilkan lewat karya seni rupa,” ucap dia.

Selain pameran, gelaran ini juga diramaikan dengan “Sketsa Bersama Publik” oleh sketchers dan Komunitas Sketsa Indonesia. Acara yang dapat diikuti oleh seluruh masyarakat umum ini berlangsung selama pameran.

“Sketsa Bersama Publik” mengajak para pengunjung PKN terutama pengunjung Pameran “Wajah Indonesia” untuk sketsa bersama merespons suasana atau peristiwa selama PKN berlangsung.

Baca juga: Purwa Tjaraka: Anugerah Budaya apresiasi pemerintah untuk kebudayaan

Kurator pameran, Sudjud Dartanto menuturkan, pameran ini dengan sengaja memberi perhatian pada pokok wajah.

Hal itu terkait dengan semangat tema umum Pekan Kebudayaan Nasional 2019 yang menampilkan berbagai hasil produk kebudayaan, termasuk dalam konteks pameran ini adalah tafsir wajah dalam praktik seni rupa sebagai produk kebudayaan di Indonesia.

“Wajah Indonesia” dimaksudkan untuk membuka apresiasi atas keragaman ekspresi dari para seniman, serta mengenali berbagai tafsir wajah manusia Indonesia secara lebih personal.

“Kita tahu tradisi menggambar atau merepresentasikan potret ini dinamis. Dalam ranah seni rupa, penggambaran wajah mengalami puncak ‘realisme’-nya pada era revolusi fisik, dan sebelumnya dengan citra ‘molek’ pada era romantisisme di Hindia Belanda saat nama Indonesia belum ada,” kata Sudjud.

Baca juga: Permainan tradisional meriahkan Pekan Kebudayaan Nasional

Kurator lain, Teguh Margono menyebut melalui wajah dalam bahasa rupa, pengunjung akan mendapat pengetahuan tentang berbagai gagasan penggambaran wajah.

“Selain itu kita juga dapat ikut merasakan ekspresi yang ditimbulkan oleh para perupanya dengan lebih personal, melalui bahasa material, ungkapan warna, karakter garis, bentuk tekstur, berbagai ritme, dan irama komposisi,” kata dia.

Pameran ini merupakan satu mata acara dari Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2019 bertajuk "Ruang Bersama #indonesiabahagia" yang diselenggarakan pada 7-13 Oktober 2019 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Pameran ini merupakan bentuk partisipasi Galeri Nasional Indonesia dalam menyemarakkan PKN sesuai dengan fungsi Galeri Nasional Indonesia sebagai lembaga budaya negara yang melaksanakan kemitraan, pameran, dan layanan edukasi di bidang seni rupa.

Baca juga: Bekraf: Pekan Kebudayaan Nasioal mengemas budaya dengan cara kekinian
Baca juga: 59 pegiat kebudayaan akan terima Anugerah Kebudayaan 2019
Baca juga: Lima Pemda peduli budaya terima Anugerah Kebudayaan 2019

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Membuat layang-layang sendiri di Pekan Kebudayaan Nasional

Komentar