Warga Pacitan gelar shalat minta hujan di sungai yang mengering

Warga Pacitan gelar shalat minta hujan di sungai yang mengering

Warga menggelar ritual shalat minta hujan (istisqa) di dasar bendung sungai yang mengering di Desa Sukorejo, Pacitan, Minggu (20/10/2019). ANTARA/Destyan Handri Sujarwoko/am.

memohon kepada Allah SWT agar segera diturunkan hujan
Pacitan, Jatim (ANTARA) - Ratusan warga Pacitan, Jawa Timur, Minggu menggelar shalat istisqa atau meminta hujan di sebuah bendung sungai yang mengering.

Laiknya shalat jamaah hari raya, acara dimulai dengan menggelar shalat sunah dua rakaat di dasar bendung Sungai Jelok yang mengering.

Selesai shalat, ulama desa yang ditunjuk menjadi imam shalat menyampaikan khotbah dan memimpin doa-doa meminta hujan dalam bahasa Arab maupun Indonesia.

Baca juga: BMKG: Sejumlah wilayah Jatim berpotensi terjadi kekeringan ekstrim
Baca juga: Hujan di Jatim akibat suhu muka laut menghangat


Kegiatan shalat istisqa itu digelar di Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, selama kurang lebih sejam hingga hujan yang ditunggu akhirnya turun membasahi sebagian wilayah Pacitan, termasuk di lokasi shalat istisqa.

"Ini upaya kami, seluruh warga Pacitan, khususnya warga Desa Sukorejo dalam memohon kepada Allah SWT agar segera diturunkan hujan," kata Kepala Desa Sukorejo M Anam usai pelaksanaan shalat Istisqa.
Warga menggelar ritual shalat minta hujan (istisqa) di dasar bendung sungai yang mengering di Desa Sukorejo, Pacitan, Minggu (20/10/2019) (Destyan Handri Sujarwoko)

Ibadah sunah dua rakaat itu tidak hanya diikuti perangkat desa saja. Namun juga masyarakat dari berbagai tingkatan usia, mulai anak-anak sampai orang tua.

Menurur Anam, bencana kekeringan telah enam bulan melanda Pacitan, termasuk di wilayah tersebut.

Tak hanya membuat aliran Sungai Jelok yang mengering, permukaan air bawah tanah juga turun drastis. Air sumur yang dulunya bisa disedot kini dalam dua menit cepat habis.

Baca juga: BPBD Jatim: 199 desa terdampak kekeringan kritis

Hal senada juga disampaikan Waluyo dan Hasyim dan Syarif Husein, warga setempat yang menyebut air sumur mereka telah berubah warna menjadi kekuning-kuningan.

Sebenarnya air semacam itu tidak layak digunakan namun warga tidak memiliki pilihan karena tidak ada alternatif suplai air bersih dari luar yang mencukupi.

"Untuk konsumsi kami terpaksa blandong air dari sumur-sumur warga lain yang airnya masih jernih," katanya.

Persoalan kesulitan air bersih semacam itu memang jamak terjadi ketika musim kemarau di kawasan berjuluk Paradise of Java ini. Hanya saja tahun ini dirasakan warga kondisinya lebih parah.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyebut, untuk memenuhi kebutuhan air bersih pada wilayah terdampak, mereka telah menyalurkan ribuan tangki air.

Upaya tersebut akan terus berlangsung sampai permintaan bantuan berakhir seiring datangnya musim penghujan yang diperkirakan akan tiba awal November nanti.

"Sebanyak 1.070 tangki telah disalurkan untuk warga yang membutuhkan air bersih," kata Kasi Kesiapsiagaan dan Kedaruratan BPBD Aswin Rikha Wijaya.

Baca juga: Gubernur Jatim perintahkan kirim air bersih ke daerah kekeringan
 

Pewarta: Destyan H. Sujarwoko
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kekeringan meluas, 8.522 warga Magetan andalkan droping air bersih

Komentar