Cuaca di Jateng bagian selatan dipengaruhi tiga badai, sebut BMKG

Cuaca di Jateng bagian selatan dipengaruhi tiga badai, sebut BMKG

Tangkapan layar BMKG mengenai tiga badai yang muncul di belahan bumi utara berdampak pada cuaca di belahan bumi selatan, khususnya Jawa Tengah bagian selatan, Jumat (8/11/2019). (FOTO ANTARA/HO-BMKG)

Saat ini di belahan bumi utara terdapat tiga badai, yakni Bulbul, Nakri, dan Halong. Akibatnya, awan hujan yang sebenarnya telah banyak bermunculan di belahan bumi selatan, tersedot ke arah badai tersebut
Cilacap (ANTARA) - Tiga badai yang muncul di belahan bumi utara turut memengaruhi kondisi cuaca di wilayah Jawa Tengah bagian selatan, kata Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo.

"Saat ini di belahan bumi utara terdapat tiga badai, yakni Bulbul, Nakri, dan Halong. Akibatnya, awan hujan yang sebenarnya telah banyak bermunculan di belahan bumi selatan, tersedot ke arah badai tersebut," katanya di Cilacap, Jumat sore.

Dengan demikian, kata dia, cuaca di sebagian wilayah Jateng, khususnya bagian selatan, dalam beberapa hari terakhir cenderung cerah meskipun sempat diguyur hujan pada tanggal 1-3 November 2019.

Ia memrakirakan kondisi cuaca tersebut masih akan berlangsung hingga hari Senin (11/11) karena pengaruh badai masih kuat.

"Namun dari pantauan kami, di wilayah Cilacap bagian barat sore ini berpotensi terjadi hujan lokal," katanya.

Ia mengakui jika biasanya pada bulan November tidak ada badai di belahan bumi utara khususnya Laut China Selatan.

"Kalaupun ada, paling cuma tekanan rendah, tidak sampai menjadi badai. Menurut saya, ini ada anomali cuaca sehingga hujan menjadi terhenti," katanya.

Terkait dengan kondisi tersebut, dia mengimbau masyarakat yang bermukim di daerah rawan banjir dan longsor untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya hujan dengan intensitas tinggi setelah pengaruh tiga badai itu melemah.

Sebelumnya, Teguh mengimbau masyarakat khususnya yang bermukim di wilayah pegunungan tengah Jateng untuk mewaspadai peningkatan intensitas hujan yang diprakirakan akan terjadi pada bulan November 2019.

"Berdasarkan prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG Stasiun Klimatologi Semarang, wilayah Jawa Tengah secara umum akan memasuki musim hujan. Pada awal-awal bulan November, intensitas hujannya diprakirakan masih ringan hingga sedang, namun mulai pertengahan bulan diprakirakan mulai meningkat," katanya.

Bahkan, kata dia, curah hujan pada bulan November di wilayah pegunungan tengah Jateng khususnya Banjarnegara bagian utara, sebagian kecil Banjarnegara bagian timur, Wonosobo bagian barat, dan Pekalongan bagian selatan diprakirakan lebih dari 500 milimeter atau sangat tinggi.

Sementara curah hujan di wilayah pegunungan tengah Jateng lainnya seperti Banyumas bagian timur laut, sebagian besar Purbalingga, Pemalang bagian tenggara, Pekalongan bagian barat, sebagian besar Banjarnegara, serta sebagian besar Wonosobo diprakirakan berkisar 401-500 milimeter dan masuk kategori tinggi.

Ia mengatakan curah hujan di wilayah Jateng bagian selatan seperti sebagian besar Cilacap, sebagian besar Banyumas termasuk sekitar Gunung Slamet, Purbalingga bagian selatan, Banjarnegara bagian barat, sebagian besar Kebumen, serta Purworejo bagian utara diprakirakan berkisar 301-400 milimeter dan masih masuk kategori tinggi.

"Curah hujan di beberapa wilayah Jateng selatan seperti Cilacap bagian barat daya, Kebumen bagian tenggara, dan Purworejo bagian selatan diprakirakan masuk kategori menengah dengan curah berkisar 201-300 milimeter," demikian Teguh Wardoyo.

Baca juga: Badai Vince Muncul di Cilacap

Baca juga: Cuaca buruk perairan selatan Jateng berangsur mereda

Baca juga: BMKG : badai matahari tak pengaruhi angin kencang

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Puncak diterjang badai, jalur pendakian Gunung Lawu ditutup

Komentar