Manajemen gizi atlet masih jadi kelemahan pembinaan olahraga

Manajemen gizi atlet masih jadi kelemahan pembinaan olahraga

(Ki-ka) Public Relation Manajer Ajinomoto Indonesia Indra Nurcahyo, atlet renang nasional I Gede Siman Sudartawa, pelatih timnas renang Albert Sutanto, dan ahli nutrisi bidang olahraga Emilia Elfiranti Achmadi dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (19/12/2019). (ANTARA/Shofi Ayudiana).

Jakarta (ANTARA) - Manajemen gizi atlet dinilai masih menjadi salah satu kelemahan dalam hal pembinaan olahraga di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan oleh ahli nutrisi di bidang olahraga, Emilia Elfiranti Achmadi. Ia mengatakan bahwa asupan gizi atlet masih kurang diperhatikan.

"Kalau bicara olahraga di Indonesia itu, kekurangannya satu. Asupan makanan tak dipandang sebagai hal teknis, tapi soal emosional," ujar Emilia di Jakarta, Kamis.

Padahal menurutnya, pemberian asupan makanan yang tepat baik secara kualitas maupun kuantitas dapat menghasilkan kondisi fisik serta performa atlet yang maksimal.

Emilia yang juga telah menjadi ahli gizi selama 25 tahun itu menilai, performa atlet tidak akan maksimal apabila asupan nutrisinya tidak dikontrol. Prestasi pun sulit dicapai apabila pembinaan di berbagai cabang olahraga juga masih inkonsisten dalam menjalankan program diet khusus atlet.

"Saya melihat inkonsistensi yang terjadi, di mana support (nutrisi) untuk atlet di berbagai cabang olahraga masih harus diperbaiki dan ditingkatkan," kata Emilia yang sempat menjadi konsultan gizi menjelang Olimpiade 2016 itu.

Baca juga: Asupan nutrisi terjaga, kunci Siman memukau di SEA Games 2019

Menurutnya, sebagian federasi olahraga pun tidak memiliki ahli nutrisi sehingga perhatian soal gizi atlet masih minim. Padahal ahli nutrisi sangat dibutuhkan untuk memberikan pedoman pola makan agar menunjang performa atlet baik sebelum pertandingan, saat pertandingan maupun setelah pertandingan.

"Tidak semua federasi menyiapkan makanan untuk atletnya. Jadi atlet masih dibebaskan untuk mengonsumsi apa saja," ujarnya.

Atlet renang nasional I Gede Siman Sudartawa pun berpendapat serupa. Ia mengatakan program Pelatnas di Indonesia masih belum memedulikan soal asupan gizi dan nutrisi bagi atlet.

"Kita di sini gak ada psikolog dan ahli nutrisi buat tim. Sedangkan Singapura lengkap semua," kata Siman.

Siman yang telah konsisten menjalankan diet khusus selama dua tahun bersama ahli nutrisi itu telah merasakan langsung hasil dari kebiasaan dan pola makannya yang dijaga.

"Yang pasti lebih cepat untuk meraih tubuh ideal pas mendekati pertandingan," kata Siman.

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pembinaan atlet butuh dukungan dunia usaha

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar