Jaga Natuna, Menteri Edhy dinilai perlu reorientasi pengawasan laut

Jaga Natuna, Menteri Edhy dinilai perlu reorientasi pengawasan laut

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan, Abdul Halim. ANTARA/Dok. Pribadi/am.

Langkah strategis yang mesti dilakukan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan adalah mereorientasi kinerja Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan​​​​​​​ (Ditjen PSDKP), setidaknya meningkatkan capaian yang sudah diraih oleh Sa
Jakarta (ANTARA) - Pengamat perikanan dan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan, Abdul Halim menyatakan guna menjaga kedaulatan kawasan perairan Natuna, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo perlu reorientasi pengawasan laut.

"Langkah strategis yang mesti dilakukan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan adalah mereorientasi kinerja Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Ditjen PSDKP), setidaknya meningkatkan capaian yang sudah diraih oleh Satgas 115," kata Abdul Halim kepada Antara di Jakarta, Minggu.

Abdul Halim mengingatkan bahwa sejak dibentuk kementerian itu, pengawasan di laut menjadi mandat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terutama Ditjen PSDKP.

Baca juga: Nelayan Natuna takut melaut sejak ada kapal asing

Dengan demikian, ujar dia, maka seharusnya tinggal komitmen dan inovasi dalam mencapai target saja yang belum dilakukan agar dinamika ancaman di tapal batas bisa diatasi.

Namun, lanjutnya, diingatkan pula bahwa bukan hanya KKP yang memiliki kewenangan pengawasan di laut, melainkan juga Bakamla, TNI AL dan Kepolisian RI.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengusulkan pembelian kapal pelayaran samudera (ocean going vessel) berukuran besar untuk menjaga laut Indonesia.

Hal itu dilakukan menyusul insiden masuknya kapal penjaga pantai China ke perairan Natuna, Kepulauan Riau, yang mengawal beberapa kapal ikan asal negeri panda itu di perairan tersebut Desember 2019.

Baca juga: Luhut usulkan beli kapal "ocean going" jaga laut Indonesia

"Saya tadi usul supaya ada kapal ocean going yang lebih panjang. Kita belum pernah punya selama republik ini merdeka. Tadi dengan Pak Bowo (Prabowo Subianto) mau beli yang 138-140 meter frigate," katanya.

Luhut mengatakan kapal yang lebih besar diharapkan bisa memperkuat penjagaan laut Indonesia.

Dalam pertemuannya dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pula, Luhut mengatakan pemerintah sepakat untuk memperbanyak kapal patroli di perbatasan.

Ia pun meminta agar masalah masuknya kapal China ke perairan di Natuna tidak dibesar-besarka

Baca juga: Soal ZEE Natuna, Mahfud: Kita punya kedaulatan yang harus dijaga

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyatakan, pihaknya perlu membangun komunikasi dengan pihak terkait lainnya untuk menjaga lautan Nusantara yang sangat luas.

"Tugas pengawasan ini bukanlah tugas mudah karena harus menyatukan tujuan. Kita perlu membangun komunikasi di setiap sektor karena kita tidak akan bisa menjaga laut sendirian," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

Baca juga: Menlu tegaskan kapal China langgar wilayah ZEE Indonesia


Menteri Edhy Prabowo memaparkan, peran pengawasan yang dijalankan KKP di setiap daerah menjadi sangat penting karena PSDKP merupakan garda terdepan dalam mengawal dan menjaga sumber daya kelautan.

Namun, Menteri Kelautan dan Perikanan juga mengakui bahwa PSDKP juga tak sendiri dalam menjalankan peran pengawasan. PSDKP perlu bantuan berbagai pihak lainnya seperti TNI AL, Polair, Bakamla dan Kejaksaan.

 

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

KKP tangkap tiga kapal pencuri ikan asal Vietnam di Laut Natuna

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar