Lima film Indonesia yang lebih dulu terkenal di luar negeri

Oleh Maria Cicilia

Jakarta (ANTARA) - Indonesia memiliki kualitas film yang tidak kalah dengan luar negeri, beberapa malah lebih dulu dikenal dunia baru dirilis di dalam negeri setelah adanya permintaan. 

Beberapa sineas tanah air sengaja membuat film untuk diikutsertakan pada berbagai festival internasional. Usaha tersebut nyatanya tidaklah sia-sia, mereka pulang membawa piala penghargaan atau filmnya berkesempatan diputar di festival film bergengsi dunia.

Setelah terkenal di luar, berita ini pun menyebar dengan cepat melalui sosial media. Atas permintaan tersebut, akhirnya film-film diputar di bioskop secara terbatas.

Berikut ini adalah beberapa film yang lebih dulu dikenal dunia lalu masuk ke Indonesia.
 
Foto film "A Copy of My Mind" (ANTARA/Lo-Fi Flicks)

"A Copy of My Mind"

Film karya Joko Anwar ini lebih dulu diputar di Contemporary World Cinema section of the 2015 di Toronto International Film Festival, Busan International Film Festival, dan Venice International Film Festival.

Film ini semakin membuat penasaran setelah memenangkan tiga piala dari Festival Film Indonesia 2015 yakni Sutradara Terbaik, Sound Editing dan Mixing Terbaik serta Pemeran Wanita Terbaik atas peran Tara Basro.

"A Copy of My Mind" tayang di bioskop pada 11 Februari 2016. Ceritanya sangat menggambarkan kehidupan masyarakat Jakarta sehari-hari yang sangat nyata. Film ini dibintangi oleh Chicco Jerikho dan Tara Basro.

Baca juga: Adu akting bareng Tara Basro, Lutesha: Deg-degan

Baca juga: Ajang FFI penting bagi perfilman Indonesia, kata Tara Basro
Foto film "Siti" (ANTARA/Fourcolours Films)


"Siti"

Film ini awalnya memang tidak berniat ditayangkan di bioskop Indonesia, namun karena menang sebagai Film Terbaik Festival Film Indonesia 2015, "Siti" kemudian tayang di beberapa bioskop.

Film hitam putih garapan Eddie Cahyono ini meraih penghargaan sebagai sinematografi terbaik dan naskah film terbaik untuk kategori New Asia Talent Competition Festival Film Internasional Shanghai 2015.

"Siti" memotret kehidupan perempuan yang harus menjadi pemandu karaoke kelas bawah di sekitar Parangtritis, Yogyakarta. Saat Siti bekerja sebagai pemandu karaoke, suaminya Bagus merasa keberatan dan tak mau berbicara kepadanya. Siti pun frustasi dan bimbang hingga seorang polisi hadir dalam kehidupannya, bahkan mengajaknya menikah.
Foto film "Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak" (ANTARA/Cinesurya)


"Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak"

Film karya Mouly Surya ini tayang lebih dulu di luar negeri yakni di Cannes Film Festival 2017, Amerika Serikat. "Marlina" juga tayang di Festival International de Films de Femmes de Creteil 2018 dan bioskop Amerika Serikat.

Pada November 2018, "Marlina" mendapat penghargaan Asian World Film Festival (AWFF) 2018 di Culver City, California, Amerika. Film ini juga mewakili Indonesia pada Academy Awards 2019 kategori Best Foreign Languange.

Film yang dibintangi oleh Marsha Timothy itu juga mendominasi Festival Film Indonesia 2018 dengan membawa pulang piala Film Cerita Panjang, Pemeran Utama Wanita, Sutradara, Penulis Skenario Asli, Penata Suara, Penata Musik, Pemeran Pendukung Wanita, Pengarah Sinematografi, Pengarah Artistik dan Penyunting Gambar.

Baca juga: Film bernuansa etnik Indonesia yang mencuri perhatian internasional

Baca juga: Film "Marlina Si Pembunuh" raih penghargaan AWFF 2018
Foto film "Kucumbu Tubuh Indahku" (ANTARA/Fourcolours Films)


"Kucumbu Tubuh Indahku"

Sama seperti film festival lainnya, "Kucumbu Tubuh Indahku" terlambat tayang di Indonesia. Film ini tayang lebih dulu di berbagai festival film internasional dan meraih sejumlah penghargaan.

Film ini tayang perdana di Italia dalam Festival Film Internasional Venesia ke-75 pada awal September 2018. Setelah itu, "Kucumbu Tubuh Indahku" meraih penghargaan Bisato D’Oro Award 2018 dari Venice Independent Film Critic dan Best Film pada Festival Des 3 Continents, di Nantes, Prancis, pada pertengahan November 2018.

Pada 3 Desember 2018, film garapan Garin Nugroho itu tayang di Indonesia tepatnya di Jogja NETPAC Asian Film Festival di Yogyakarta. Film ini juga memenangi penghargaan Cultural Diversity Award di Asia Pasific Screen Awards ke-12, Brisbane, Australia. Sebagai bagian dari kemenangan itu, "Kucumbu Tubuh Indahku" tayang di markas UNESCO di Paris, Prancis.

"Kucumbu Tubuh Indahku" tayang di bioskop komersil pada 18 April 2019 serta memenangkan delapan piala Festival Film Indonesia 2019 dan masuk seleksi Best International Feature Film di Oscar 2020 bersama "Parasite".
 
Foto film "27 Steps of May" (ANTARA/Green Glow Pictures)


"27 Steps of May"

Film ini pertama kali diputar di Busan International Film Festival pada Oktober 2018, Cape Town International Film Market & Festival, Goteborg Film Festival, dan Bengaluru International Film Festival.

Kemudian setelah melihat antusias yang besar dari penonton di Jogja-NETPAC Asian Film Festival dan Plaza Indonesia Film Festival, "26 Steps of May" pun tayang di bioskop komersil pada 27 April 2019.

Baca juga: Jalan panjang untuk film animasi Indonesia

Baca juga: Ucapan Hari Film Nasional dari sineas tanah air

Baca juga: 10 film besar Indonesia yang tak tembus 1 juta penonton

Oleh Maria Cicilia
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Sineas nilai tahun 2021 masa kejayaan perfilman nasional

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar