Jakarta (ANTARA News) - Debat calon wakil presiden (cawapres) yang berlangsung di Jakarta, Selasa malam, kurang greget karena ketiga
cawapres Prabowo Subianto, Boediono, dan Wiranto terjebak pada ulasan-ulasan yang normatif.

"Ketiga cawapres masing-masing Prabowo, Boediono, dan Wiranto terjebak pada ulasan-ulasan yang normatif," kata Peneliti Senior Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanudin Muhtadi.

Ia menyebutkan, ulasan-ulasan pada visi dan misi ketiga cawapres itu penuh retorika dan miskin program aksi.

Ketiga cawapres itu, kata dia, tidak dapat menawarkan langkah-langkah konkrit, sekedar harapan pun mereka gagal berikan.

Ia mencontohkan, saat debat capres Amerika Serikat antara Barack Obama dan McCain. Obama mungkin kurang mampu tawarkan solusi konkret bagaimana problem negaranya tapi setidaknya dia tawarkan perubahan.

"Semestinya para kandidat cawapres itu dapat menawarkan sebuah perubahan," ujar dia.

Menurut dia, baik Prabowo maupun Wiranto kurang realistis dan terjebak pada sapuan besar untuk menjawab problem-problem nyata di sekitar isu kesehatan dan pendidikan.

Sementara Boediono cukup baik dalam mendiagnosa masalah tapi ketika bicara solusi dia sangat "teks book" khas akademisi.

Akibatnya ketiganya gagal tampilkan "diferensiasi" baik pada sisi gagasan maupun alternatif jalan keluar untuk meningkatkan kualitas manusia.

Sementara debat cawapres sendiri kurang semarak karena sepinya pendukung dari ketiga cawapres tersebut.

Beberapa kursi yang disediakan di arena debat cawapres juga banyak yang tidak terisi.

Hanya yang terlihat mencolok pendukung Mega-Prabowo yang menggunakan pakaian berwarna merah dan putih bertuliskan "Mega-Prabowo".(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2009