ACB: Konsensus 30 persen konservasi laut ASEAN menguat

ACB: Konsensus 30 persen konservasi laut ASEAN menguat

Pesisir Pulau Maratua yang masuk dalam Kawasan Konservasi Perairan Daerah di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Rabu (4/12/2019). (ANTARA/Virna P Setyorini)

“Ayo kita semua bekerja lebih keras sehingga dari generasi ke generasi dapat menikmati manfaat dari laut yang sehat,” kata Lim.
Jakarta (ANTARA) - Bertepatan dengan Hari Laut Sedunia, ASEAN Center for Biodiversity (ACB) menyebut konsensus untuk melindungi laut di kawasan ASEAN dengan menjadikan 30 persen perairannya sebagai Kawasan Konservasi Laut (KKL) menguat di kalangan pakar hingga pembuat kebijakan.

Executive Director ASEAN Centre for Biodiversity Theresa Mundita S Lim dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Senin, mengatakan bulan lalu, ACB dan The Pew Charitable Trusts bersama-sama mengadakan pertemuan virtual bertema Melindungi Lautan: Peran Kritis Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati (CBD).

Diskusi yang menurut dia produktif tersebut dilakukan oleh para pakar kelautan, pembuat kebijakan, perwakilan pemerintah dan organisasi masyarakat sipil, dan peneliti membahas tentang apa artinya melindungi 30 persen dari lautan dapat berarti bagi Kawasan ASEAN.

Ada konsensus yang berkembang di antara para ahli tentang pentingnya melindungi setidaknya 30 persen lautan dengan membentuk Kawasan Konservasi Laut (KKL), yang dianggap perlu untuk mencapai berbagai tujuan lingkungan dan ekonomi.

Baca juga: ACB serukan "normal better" di Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Dalam sebuah studi tentang biaya dan manfaat global dari perluasan KKL, Lim mengatakan perluasan dan memastikan pengelolaannya yang efektif dapat menghasilkan dampak ekonomi positif.

Wilayah ASEAN dianugerahi keanekaragaman hayati laut yang kaya, menampung sepertiga dari habitat pesisir dan laut dunia yang meliputi terumbu karang, hutan bakau, muara, pantai berpasir dan berbatu, padang lamun dan padang rumput, dan komunitas lunak lainnya.

Dengan tekanan populasi yang meningkat dan aktivitas manusia yang meningkat, seperti eksploitasi berlebihan, sedimentasi, dan polusi, sumber daya laut yang kaya dan penting secara global itu, menurut Lim, berada di bawah ancaman serius.

Baca juga: ASEAN serukan konservasi alam untuk cegah pandemi di masa depan

Pada Hari Lautan Sedunia, ia mengatakan ACB merayakan peran yang dimainkan oleh laut dalam aksi iklim, keamanan pangan, dan kesehatan masyarakat, sama halnya dengan menekankan urgensi melindungi lautan dan melestarikan jutaan spesies tergantung pada mereka.

“Ayo kita semua bekerja lebih keras sehingga dari generasi ke generasi dapat menikmati manfaat dari laut yang sehat,” kata Lim.

Dari data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Indonesia memiliki luas laut 3,25 juta kilometer persegi (km2) dan menjadi bagian dari segi tiga terumbu karang dunia atau Amazon of the sea.

Saat ini total KKL di Indonesia mencapai 23,14 juta hektare (ha) dan dikelola secara bersama oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Pemerintah Provinsi. Pemerintah Indonesia menargetkan 30 juta ha luas wilayah konservasi laut pada 2030 atau sepuluh tahun dari sekarang.

Baca juga: ACB: Air dan keanekaragaman hayati tak terpisahkan

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Upaya pelestarian bekantan di Kota Banjarmasin

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar