Marak tolak rapid tes di Makassar LPM diminta berkontribusi

Marak tolak rapid tes di Makassar LPM diminta berkontribusi

Spanduk penolakan rapid tes massal terpajang di depan gapura dengan akses masuk diblokir di jalan Nuri Makassar, Sulawesi Selatan. FOTO/HO/istimewa/aa.

jika ingin melakukan deteksi virus lebih cepat, maka kita harus lakukan rapid test
Makassar (ANTARA) - Pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kota Makassar, Sulawesi Selatan, diminta turun tangan untuk memberikan kontribusi melalui edukasi di tengah maraknya kontroversi penolakan rapid test Coronavirus Disease (COVID-19).

"Mari kita berikan pemahaman kepada warga, bahwa jika kita ingin melakukan deteksi virus lebih cepat, maka kita harus lakukan rapid test. Kerja sama penting antara RT, RW, Lurah dan camat termasuk LPM," kata Pejabat Wali Kota Makassar, Yusran Jusuf di Rumah Jabatan, Selasa.

Untuk itu, selain RT dan RW sebagai ujung tombak pelayanan masyarakat, tentu LPM juga punya peranan penting di sana, sehingga diminta berkontribusi untuk memberikan edukasi secara masif di lingkungan masing-masing.

"Akhir-akhir ini kita melihat banyak warga yang menolak untuk di rapid test di wilayahnya. Padahal ini penting untuk mencegah secara cepat penyebaran virus pada wilayah Kota Makassar," ujarnya.

Baca juga: Warga tolak "rapid test", Makassar butuhkan edukasi massif COVID-19

Baca juga: Seorang PDP di Pulang Pisau sempat tolak "rapid test"


Ia juga meminta dukungan kerja sama LPM agar memberikan sosialisasi dan pemahaman terkait pentingnya warga melakukan rapid test.

Dengan bantuan LPM, dia berharap ada kesadaran dari masyarakat setempat agar tidak mengulangi penolakan rapid test dan bisa bekerja sama dengan tenaga kesehatan yang bertugas.

Yusran menjelaskan agar warga tidak perlu takut untuk mengikuti rapid test, sebab tidak semua yang dites positif bahkan belum tentu hasilnya reaktif.

“Kalau pun reaktif warga bisa melakukan isolasi mandiri. Isolasi kan juga penting untuk kita tidak menyebarkan virus ke orang-orang tersayang kita. Ini yang harus masyarakat paham," katanya.

Sebelumnya, sejumlah warga di beberapa lokasi menolak pelaksanaan rapid test oleh tim gugus tugas COVID-19 Makassar karena termakan hoaks, atau informasi sesat di media sosial. Masyarakat menganggap rapid test tersebut dianggap lahan bisnis, namun sejauh ini kebenaran informasi itu tidak ada kejelasan.

Dari pantauan data posko gugus tugas COVID-19 Kota Makassar, Selasa 9Juni 2020, jumlah total pasien terkonfirmasi positif sebanyak 1.137 orang, dinyatakan sembuh 451 orang, dirawat di Rumah Sakit 393 orang, isolasi mandiri 207 orang, meninggal dunia 86 orang. Saat ini masih tersisa mencapai 600 orang positif.

Sedangkan untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP) total sebanyak 930 orang, dirawat 367 orang, selesai pengawasan 464 orang dan jumlaj pasien meninggal dunia 99 orang. Orang Dalam Pemantauan sebanyak 1.639 orang, selesai dipantau 1.498 dan masih dipantau 141 orang.

Baca juga: Warga Kedak Kabupaten Kediri tolak rapid test
 

Pewarta: M Darwin Fatir
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Uji coba PSBB di Kota Makassar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar