counter

Kekeringan Landa Ratusan Hektare Tanaman Kakao di Mamuju

Kekeringan Landa Ratusan Hektare Tanaman Kakao di Mamuju

(ANTARA/Fanny Octavianus)

Mamuju (ANTARA News) - Kekeringan melanda ratusan hektare tanaman kakao yang tersebar di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat sejak enam bulan terakhir.

Arnol, salah seorang petani di Kecamatan Kalukku Kabupaten Mamuju, Minggu, mengatakan, tanaman kakaonya mengalami kekeringan karena musim kemarau yang melanda wilayah itu sejak enam bulan terakhir.

"Tanaman kakao di wilayah Kecamatan Kalukku ini, seperti Desa Lebbeng Sampoang, Bebanga, Kalukku, dan Pure yang jumlahnya mencapai ratusan hektare, telah dilanda kekeringan akibat musim kemarau," katanya.

Ia mengatakan, tanaman kakao petani menjadi kuning dan buahnya menjadi kering serta berubah menjadi berwarna hitam, kemudian daunnya menjadi berguguran akibat serangan kemarau tersebut.

Menurutnya, akibat musim kemarau tersebut kakao petani terancam gagal panen dan produksi yang saat ini mencapai sekitar 500 kilogram per hektare akan menurun drastis.

"Petani di Kalukku kebingungan untuk mengatasi kekeringan tersebut, karena sumber air juga mengalami kekeringan," katanya.

Hal yang sama dikatakan Jumadil, salah seorang petani di Tapalang, menurutnya musim kemarau yang melanda wilayahnya juga telah mengakibatkan ratusan hektare tanaman kakao petani di wilayah itu kekeringan.

"Kekeringan yang terjadi ini, mengakibatkan kakao dengan mudah terserang hama seperti PBK, dan VSD, serta hama tikus," ujarnya.

Selain itu, tanaman petani juga menjadi rusak serta kualitasnya menurun karena tanaman kakao menjadi keras dan berwarna hitam.

Kondisi tersebut, lanjutnya, sangat mengkhawatirkan petani di wilayah itu karena dapat mengakibatkan gagal panen dan produksi kakao menurun.

Menurutnya, akibat kemarau itu juga akan mengancam proyek gerakan nasional (Gernas) peningkatan mutu produksi kakao yang telah menelan anggaran hingga miliaran rupiah di wilayah itu.

"Kami kebingungan mengatasi kekeringan yang mengancam tanaman kakao kami, oleh karenanya pemerintah harus turun tangan mengatasi masalah ini," harapnya. (*)

Pewarta: luki
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2009

Aliri persawahan, pintu air Sarangan dibuka 7 hari

Komentar